Minggu, 18 Juli 2010

Pulau Kumala, Wisata di Tengah Sungai Mahakam


“Bermahkota bukannya raja. Berbelalai. Bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?”
Kuis tebak-tebakan yang tidak berhadiah ini tertulis di bawah kaki Patung berbentuk binatang aneh dan unik di depan Musium Mulawarman. Jawabannya memang sudah pasti “Lembuswana”, spesies langka yang tidak termasuk dalam daftar Appendix I Cites ini dapat anda jumpai di 3 (tiga) lokasi utama Kota Tenggarong, di Pintu Gerbang memasuki kota Tenggarong, di depan Musium Mulawarman dan yang terbesar di Pulau Wisata Kumala.

Wong ndeso ini pantas girang banget,soale baru nyadar kalo Rumah Makannya tidak saja bisa ngambang di atas air, tapi bisa mengelilingi Pulau Kumala, pantas saja ini kan Kapal Layar, layaknya sebuah kapal tentu ada mesinnya, setir, Anak Buah, Layar, dan yang paling penting semua yang tersebut tadi dapat imbukan kata “Kapal”, sekedar untuk membedakan kebiasaan di darat sama di Sungai, termasuk juga ada organ (itu lho, alat musik yang tutnya cuman ada 2 warna, hitam dan putih)…… hahahah dasar ndesit. Tentu saja dengan alat musik tersebut nyanyinya pake irama Country-an, terasa rada jadul dikit, penyanyinya pun lengkap dengan atribut koboi dengan kisaran usia 15-an (lima belas ngikut pemilu pak…), kita-kita yang masih kinyis cuman bisa ngikut goyang-goyang kaki aja, soale gak apal, bolehlah sekali-kali teriak hhheeeyyya……heeeyyyaaaa…….halah….koboi kok melaut seh pak……koboi yah angon wedus.







Sambil makan siang, kita ber-banyak orang ini dibawa mengelilingi Pulau Kumala, sambil menikmati nikmatnya ikan Patin bakar, Gulai Kambing dan Es Jeruk, sebagai penutup buah-buahan khas Kaltim tersedia berlebih, mulai Jeruk, pisang sampai duku semuanya pas dan lengkap, dan yang penting akhirnya tak tersisa, buat kucing sekalipun, tandas.
Mendekati tujuan, pintu gerbang Pulau Kumala, terlihat sosok monumen yang cukup besar dan megah dibuatnya, Patung Lumbuswana raksasa sebagai hasil karya pematung terkenal Nyoman Nuarta. Ini pertama kalinya aku melihat sosok symbol mitologi Kerajaan Kutai Kertanegara dari dekat, inikah binatang yang gaya hidupnya amphibi plus?, plus karena punya sisik, kebayang bisa hidup di air, punya kaki empat pasti mamalia, namanya lembu tapi kepalanya gajah, punya sayap berarti bisa terbang, imaginasiku membayangkan pada suatu pagi lepas bangun tidur, terlihat para lembuswana bertengger di ranting dan bercicit cuit menyongsong mentari.
Mencari sejarah sang Lembu ini rada kesulitan, malah ketemu beberapa blogger yang minta diinformasikan tentang history of lembuswana kalo ada yang tau. Mitologi Kutai lainnya yang ketemu malah tentang Naga Erau yang menjadi rujukan Festival Erau yang sudah menjadikegiatan wisata rutin Kota Tenggarong.






Kalo Jakarta punya Dunia Fantasi, inilah andalan dari Provinsi Kaltim, Pulau Kumala, Dufan yang dibangun di daerah pesisir pantai, Pulau Kumala dibangun diatas pulau di tengah Sungai Mahakam atas prakarsa Bupati Syaukani(pak Kaning) Pulau seluas 76 ha itu dibangun dan diurug tak kurang dari sejuta setengah kubik pasir ditanam disana, hingga kini terlihat sebagai lokasi wisata modern bagi masyarakat.
Ada dua cara menuju Pulau Kumala ini, bisa dengan cara menyeberangi sungai Mahakam atau lebih menarik lagi melalui Sky Tower, dengan kendaraannya kereta gantung (cable car), diatas ketinggian 75 meter anda bisa melihat panorama kota dengan leluasa dari kaca kereta, Sky Tower sekaligus penghubung antara Tenggarong Seberang dengan Pulau Kumala.
sumber: http://khatulistiwa.info/wisata/57-pulau-kumala-wisata-di-tengah-sungai-mahakam.html

0 komentar:

Poskan Komentar