Website Get Lost in Indonesia

Berbagi foto perjalanan kamu waktu nyasar di Indonesia bersama Losteners lainnya melalui website Get Lost in Indonesia

Mau #GLiIShirt? Klik di sini!

Tetap tampil keren selama nyasar di Indonesia bersama #GLiIShirt. Ayo dapatkan segera, Losteners!

Bali yang Selalu Membuat Kita Kembali

Bali adalah destinasi favorit di Indonesia yang tiada henti-hentinya dikunjungi setiap tahun oleh wisatawan. Apa saja atraksinya yang membuat kita selalu kembali ke sana?

Galeri Curug Cilember

Berada di Ibukota tidak boleh menyurutkan niat untuk 'nyasar' keliling Indonesia. Mulai saja dari destinasi yang dekat seperti Curug Cilember.

Jogjakarta : Keramahan dan Budaya yang Membuat Rindu

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Inilah kerinduan pada Yogyakarta yang tersurat dalam sebuah lagu. Mungkinkah harus selalu kembali ke sana setiap waktu?

Rabu, 29 September 2010

TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG: KINGDOM OF THE BUTTERFLY



Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung adalah satu taman nasional yang dimiliki indonesia berlokasi di kabupaten Maros dan kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Alhamdulillah dalam sebuah perjalanan" mengintip keindahan Negeri Angin Mammiri", langkah kakiku pun sampai di Taman Nasional dengan penangkaran kupu-kupu terbesar di Indonesia ini.


Akses mencapai kawasan Taman Nasional ini sangat mudah. Kawasan ini berjarak kira-kira 10 KM dari Bandara Internasional Hasanuddin Makasar atau berjarak sekitar 15 KM dari Kota Makasar dengan perjalanan kira-kira 1,5 jam.

Di Bantimurung ini awalnya terdapat sekitar 300 spesies kupu-atau sekitar 10,8% dari spesies kupu-kupu yang dimiliki Indonesia tapi konon katanya kini yang tersisa tinggal 108 spesies.Kupu-kupu Bantimurung sejak lama sudah dikenal luas wisatawan. Biolog Naturalis Inggris Alfred Russel Wallacea (1823-1913), menjuluki Bantimurung "Kingdom of The Butterfly". Saat ini masyarakat sekitar Bantimurung banyak memburu binatang dengan warnanya yang unik ini untuk dijadikan souvenir dan dijual dengan harga yang menggiurkan. Inilah salah satu ancaman bagi kelestarian fauna ini.

Disamping penangkaran kupu-kupu di Taman Nasional ini juga terdapat air terjun Bantimurung dan beberapa goa, diantaranya adalah gowa mimpi dengan panjang sekitar 1,5 km. Bantimurung sendiri berasal dari dua kata bahasa bugis halus yaitu Benti berarti air dan merrung yang berarti bergemuruh, karena dialek daerah setempat maka benti merrung berubah nama menjadi bantimurung. Namun ada juga sebagian orang yang yang mengartikan bantimurung dengan banting murung, jadi kita harus buang murung di area ini.

Air Terjun di Bantimurung ini menyajikan keindahan yang berbeda dibandingkan dengan air terjun yang ada didaerah Bogor dan sekitarnya. Butiran air terasa halus seperti sentuhan kapas, pun bisa menikmati seluncuran air yang bermuara di sebuah kolam alam yang cukup indah.

Di dalam kawasan ini pun terdapat museum kupu-kupu. Yaps dimuseum ini kita bisa menikmati keindahan warna dan pesona kupu-kupu indonesia dengan berbagai bentuk dan ukuran. Koleksi dan kekayaan plasma nutfah yang luar biasa. Lagi-lagi hanya kebeseran Tuhan yang teringat melihat alam ini. Lets Mencari Ayat-Ayat Allah lewat alam dan penciptaannya.

Air Terjun Bantimurung





                          

sumber : http://ysvina.blogspot.com/2010/08/taman-nasional-bantimurung-kingdom-of.html

Selasa, 28 September 2010

Kebudayaan Dugderan


Dugderan adalah sebuah upacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang, dulu dugderan merupakan sarana informasi Pemerintah Kota Semarang kepada masyarakatnya tentang datangnya bulan Ramadhan. Dugderan dilaksanakan tepat 1 hari sebelum bulan puasa. Kata Dugder, diambil dari perpaduan bunyi dugdug, dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian diasumsikan dengan derr.
Kegiatan ini meliputi pasar rakyat yang dimulai sepekan sebelum dugderan, karnaval yang diikuti oleh pasukan merahputih, drumband, pasukan pakaian adat “BINNEKA TUNGGAL IKA” , meriam , warak ngendok dan berbagai potensi kesenian yang ada di Kota Semarang. Ciri Khas acara ini adalah warak Ngendok sejenis binatang rekaan yang bertubuh kambing berkepala naga kulit sisik emas, visualisasi warak ngendok dibuat dari kertas warna – warni. Acara ini dimulai dari jam 08.00 sampai dengan maghrib di hari yang sama juga diselenggarakan festival warak dan Jipin Blantenan.

Sejarah "Dugder"

Sudah sejak lama umat Islam berbeda pendapat dalam menentukan hari dimulainya bulan Puasa, masing-masing pihak biasanya ingin mempertahankan kebenarannya sendiri-sendidi, hal tersebut sering menimbulkan beberapa penentuan dimulainya puasa ini mendapat perhatian yang berwajib. Hal ini terjadi pada tahun 1881 dibawah Pemerintah Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat.Beliaulah yang pertama kali memberanikan diri menentukan nulainya hari puasa, yaitu setelah Bedug Masjid Agung dan Maeriam di halaman Kabupaten dibunyikan masing-masing tiga kali. Sebelum membunyikan bedug dan meriam tersebut, diadakan upacara dihalaman Kabupaten.

Adanya upacara Dug Der tersebut makin lama makin menarik perhatian masyarakat Semarang dan sekitarnya, menyebabkan datangnya para pedagang dari berbagai daerah yang menjual bermacam0macam makanan, minuman dan mainan anak-anak seperti yang terbuat dari tanah liat (Celengan, Gerabah), mainan dari bambu (Seruling, Gangsingan), mainan dari kerta (Warak Ngendog).

Jalannya Upacara

Sebelum pelaksanaan dibunyikan bedug dan meriam di Kabupaten, telah dipersiapkan berbagai perlengkapan berupa :
1. Bendera
2. Karangan bunga untuk dikalungkan pada 2 (dua) pucuk meriam yang akan dibunyikan.
3. Obat Inggris (Mesiu) dan kertas koran yang merupakan perlengkapan meriam
4. Gamelan disiapkan di pendopo Kabupaten.
Adapun petugas yang harus siap ditempat :
1. Pembawa bendera
2. Petugas yang membunyikan meriam dan bedug
3. Niaga (Pengrawit)
4. Pemimpin Upacara, biasanya Lurah/Kepala Desa setempat.

Upacara Dug Der dilaksanakan sehari sebelum bulan puasa tepat pukul 15.30 WIB. Ki Lurah sebagai Pimpinan Upacara berpidato menetapkan hari dimulainya puasa dilanjutkan berdoa untuk mohon keselamatan. Kemudian Bedug di Masjid dibunyikan 3 (tiga) kali. Setelah itu gamelan Kabupaten dibunyikan dengan irama MOGANG.

Prosesi "Dugder"

Meskipun jaman sudah berubah dan berkembang namun tradisi Dug Der masih tetap dilestarikan. Walaupun pelaksanaan Upacara Tradisi ini sudah banyak mengalami perubahan, namun tidak mengurangi makna Dug Der itu sendiri. Penyebab perubahan pelaksanaan antara lain adalah pindahnya Pusat Pemerintahan ke Balaikota di Jl. Pemuda dan semakin menyempitnya lahan Pasar Malam, karena berkembangnya bangunan-bangunan pertokoan di seputar Pasar Johar.Upacara Tradisi Dug Der sekarang dilaksanakan di halaman Balaikota dengan waktu yang sama, yaitu sehari sebelum bulan Puasa. Upacara dipimpin langsung oleh Bapak Walikota Semarang yang berperan sebagai Adipati Semarang.Setalah upacara selesai dilaksnakan, dilanjutkan dengan Prosesi/Karnaval yang diikuti oleh Pasukan Merah Putih, Drum band, Pasukan Pakaian Adat “ Bhinneka Tunggal Ika “, Meriam, Warak Ngendog dan berbagai kesenian yang ada di kota Semarang.

Dengan bergemanya suara bedug dan meriam inilah masyarakat kota Semarang dan sekitarnya mengetahui bahwa besok pagi dimulainya puasa tanpa perasaan ragu-ragu.



sumber : http://semarang-info.com/allnew/kebudayaan-dugderan.html

Upacara Ngaben Bali

Indotoplist.com : Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama sbg kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Seperti yg tulis di artikel ttg pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yg mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Nah ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.



Ada beberapa pendapat ttg asal kata ngaben. Ada yg mengatakan ngaben dari kata beya yg artinya bekal, ada juga yg mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu), dll.

Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sbg dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dgn menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yg digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta utk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yg melekat pada atma/roh.



Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian.

Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.

Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.

Prosesi ngaben dilakukan dgn berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sbg simbol-simbol seperti halnya ritual lain yg sering dilakukan umat Hindu Bali. Ngaben dilakukan untuk manusia yg meninggal dan masih ada jenazahnya, juga manusia meninggal yg tidak ada jenazahnya spt orang tewas terseret arus laut dan jenazah tdk diketemukan, kecelakaan pesawat yg jenazahnya sudah hangus terbakar, atau spt saat kasus bom Bali 1 dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan.

Untuk prosesi ngaben yg jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar. Banyak tahap yg dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yg berbeda-beda. Ketika ada yg meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta utk menanyakan kapan ada hari baik utk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yg tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.

Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sbg kelompok yg karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol2 menggunakan kain bergambar unsur2 penyucian roh.

Pada hari H-nya, dilakukan prosesi ngaben di kuburan desa setempat. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah, yaitu tempat jenazah yg akan diusung ke kuburan. Wadah biasanya berbentuk padma sbg simbol rumah Tuhan. Sampai dikuburan, jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan, yaitu tempat membakar jenazah yg terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu.

Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yg dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dgn api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yg melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dgn menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yg menggunakan angin.

Umumnya proses pembakaran dari jenazah yg utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yg dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu utk bayi yg berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yg akan ada jika ada keluarganya meninggal.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.

Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.

(sumber: http://info.indotoplist.com/YldWdWRUMWtaWFJoYVd3bWFXNW1iMTlwWkQweU5UST0= )

HIJRAH LEWAT TONGKANG, MENUJU NEGERI TERANG BENDERANG


Tambur menggema seiring wangi dupa, membuka sajian peradaban sang penghijrah asal negeri China. Tarian persembahan para dewa menyertai ke-khasan kota kecil yang terletak di tepian Selat Malaka itu. Rangkaian kertas membentuk kapal kayu (tongkang) kembali membuka lembaran sejarah dibangunnya kota Bagan Siapi-api, Kepulauan Riau, Indonesia.

PELAUT - Sepulang dari melaut kapal nelayan berlabuh di kota Bagan Siapi-api satu hari sebelum perayaan bakar tongkang dimulai. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 

Kota Bagan Siapi-api terbentuk dari niat sekelompok orang dari Provinsi Fujian, China, bermarga Ang yang ingin mengubah nasib di negeri orang sekitar tahun 1820-an. Untuk mewujudkan niatnya, kelompok ini menyeberangi lautan untuk mencari daratan baru dengan bermodalkan kapal kayu sederhana yang disebut wangkang atau tongkang.

TONGKANG - Pernak-pernik kapal tongkang yang akan dipersembahkan dalam acara ritual bakar tongkang tampak siluet dari balik sinar matahari yang terik. Sepulang dari melaut kapal nelayan berlabuh di kota Bagan Siapi-api satu hari seelum perayaan bakar tongkang dimulai. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 

Saat mereka terkatung-katung di lautan, kelompok Ang berdoa kepada Dewa Kie Ong Ya (Dewa Laut). Dimana patung Dewa laut tersebut diletakkan di dalam wangkang sebagai penunjuk arah menuju daratan. Dalam sebuah keheningan malam, sekelompok pencari daratan itu melihat cahaya samar-samar yang dipastikan dari sebuah daratan. Kelompok Ang pun menuju ke sumber cahaya tersebut dan mendaratkan kakinya disebuah daratan di pinggir Selat Malaka.

LAMPION - Seorang anak turut membakar lampion untuk diterbangkan pada malam perayaan 'Bakar Tongkang' di Kota Bagan Siapi-api, Kepulauan Riau. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 

RITUAL BAKAR TONGKANG
Acara ritual bakar tongkang atau pemujaan untuk memperingati hari lahir Dewa Kie Ong Ya mulai dikenal sejak tahun 1920-an atau sekitar 100 tahun setelah pendaratan pertama kelompok marga Ang mendaratkan kakinya di Bagan Siapi-api.

Saat itu pelabuhan Bagan Siapi-api merupakan pelabuhan yang tersohor di Selat Malaka. Sedangkan acara ritual bakar tongkang dituangkan sebagai wujud rasa terimakasih perantau bermarga Ang itu kepada Dewa Kie Ong Ya yang telah memberikan rezeki yang berlimpah dengan menunjukkan arah.

DEWA LAUT - Bakar Tongkang bagi warga Tiong Hoa merupakan rasa syukur kepada dewa laut yang telah memberi arah dan rezeki dalam kehidupan. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 

MENUAI PROTES
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, acara bakar tongkang sempat menghilang. Kota tersebut juga terisolasi dari dunia luar karena hanya memiliki akses jalan melalui laut. Kota Bagan Siapi-api dapat dilalui lewat jalur darat sekitar delapan tahun belakangan.
Sehingga tak heran jika dalam arsitektur kota Bagan Saiapi-api kerap dijumpai keunikan morfologi bangunan berupa rumah toko (ruko) deret khas daerah pelantar. Namun tetap saja didominasi oleh bahan kayu sebagai cirri khas arsitektur Melayu.

Memasuki era Presiden Abdurrahman Wahid, tradisi China tersebut yaitu bakar tongkang kembali diselenggarakan setiap tahun. Sedangkan biayanya ditaksir menelan anggaran Miliaran rupiah.

UANG KERTAS - Luapan seorang warga bergembira ketika upacara ritual bakar tongkang akan dimulai, sementara warga lainnya membakar dupa uang kertas untuk persembahan kepada dewa. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 

TARI PERSEMBAHAN - Seorang anak menari mengiringi suara tambur sebelum ritual Bakar Tongkang di mulai di Vihara kota Bagan Siapi-api, Kepualauan Riau, Indonesia. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 

PEMANDU ADAT - Tetua adat yang merupakan mediasi komunikasi kepada dewa digiring menggunakan kereta angkut. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 

LEBIH MERIAH DARI IMLEK
Bagi etnis Tiong Hoa Bagan Siapi-api sendiri, ritual bakar tongkang dinilai lebih semarak dibandingkan merayakan Tahun Baru Imlek. Saat Imlek banyak perantau yang tidak pulang, tetapi pada saat bakar tongkang keinginan mudik jauh lebih besar. Jumlah pengunjung yang hadir pada puncak bakar tongkang diperkirakan mencapai 40.000 orang dari berbagai negara di Asia yaitu China, Thailand, bahkan Amerika Serikat.


BAKAR TONGKANG - Ribuan dupa warga Tiong Hoa menyertai api yang membakar tongkang dalam puncak acara ritual Bakar Tongkang, di Kota Bagan Siapi-api, Kepulauan Riau, Indoensia, 26 Juni 2010. FOTO: SUTANTA ADITYA | PIXELET 


Hingga akhirnya, para perantau dadakan itu kembali ke kota tempat mereka semula untuk mengadu peruntungannya saat ini. Tentunya berbekal dengan arah yang lebih matang, arah dimana keikhlasan menjadi landasan dalam mengadu nasib yang telah ditentukan oleh Tuhan yang maha adil. Mungkin lewat tangan-tangan kecilnya, lewat aku, kamu, dia atau siapa saja.

Tentu sangatlah relevan ketika pemerintah menerima dengan tangan terbuka bahwa keberagaman budaya mampu mengharumkan nama bangsa. Menjadikan Indonesia negara multikultur dengan menoreh sejarah dari perjalanan budaya yang hijrah lewat Tongkang.


Sumber : http://pixeletphotomagz.com/2010/08/hijrah-lewat-tongkang-menuju-negeri-terang-benderang/

Untouched Balliem Valley – Rich Culture Beautiful Papua Indonesia

Baliem Valley and the Dani tribe waited a long time to be discovered. Papuan highland belongs to one the most recently explored New Guinea areas. The tall mountains in west Papua (Irian Jaya) were generally considered as uninhabited. No sooner than 1398 did the pilot Richard Archbold notice that there was something special about the deep, and large valley situated among the four-thousand meter tall mountains. In the valley there were clearly recognizable fields, similar to those he knew from Europe. The Baliem valley and Dani tribe were discovered by pure luck.

To reach the Baliem Valley, one has to fly to Jayapura, the capital city of West Papua province. From Jayapura then fly to Wamena town, the capital city of Baliem Valley. This flight takes 45 minutes passing over the tropical jungles and the land of West Papua. Wamena town has been developing some tourist facilities and become one of the center of economy and new culture for West Papua after Jayapura. Visiting the area of West Papua need government permit which can be arranged before arrival by sending your passport photocopy to the local tour agent in Indonesia.

The nature of tour on the island of West Papua are all in an adventurous activities with ready physical condition to stay in an open nature or simple huts belong to the local people, and fit to walk dozens of kilo meters if wish to see the inner part of the villages. Visiting both Dani People or Yali people must be communicated far in advance in a detail manner, so traveler will understand the situation of the location that will be visited, at least there is an idea of what will be the condition in the field. This is very important to prepare travelers to the natural condition of the island and country.

The Baliem Valley was once dubbed Shangri La and it is easy to see why. The Valley is incredibly lush and fertile and is surrounded on all sides by towering peaks of 2,500 to 3,000 metres. The fertility is such that the valley has been farmed for 9,000 years but it was only discovered by westerners in 1938! There are three mains tribes inhabiting the Baliem Valley: The Dani in the base, the Lani to the west and the Yali in the south-east. Each tribe has a distinct culture. One sure and interesting way to distinguish between the tribes is from the Koteka, or penis gourd, sported by the male members. The men of each tribe tend to the growing of the gourds with the three tribes each cultivating a different style. The Dani use a long, thin Koteka, the Lani sport a medium sized, wide cannon-like gourd, and the Yali wear the longest of all.

The Dani
Entering Dani territory involves a journey into a deeper reality.
The inevitable pig-feast on arrival is your rite of passage into their unique culture for an engrossing a four or five hour intense experience. You will find yourself in a simple, traditional compound surrounded by fully greased and painted Dani tribes-people wearing their ceremonial best.

The whole elaborate affair is deeply spiritual, far more than a photo-session can ever capture. Here you will be warmly greeted by the amazing Chief Yali, Kelly’s adoptive father who is legendary amongst the Dani for his kindness, generosity and skills in the art of co-operation and avoiding conflict. With this unique and privileged connection you will receive the full weight of Dani hospitality.

The Lani
Like the Dani, the Lani are expert farmers utilising a highly effective and efficient irrigation system to produce abundant crops of Sweet Potatoes (Ubi), Tobacco, Beans, Taro, Spinach, Sugar Cane and Bananas. Much of the Lani lands lie in a beautiful oasis interspersed with checkerboard patterned sweet potato gardens. The Lani are more stockily built than the medium-bodied Dani and their lands are more densely populated. They tend to congregate in largish villages rather than the small compounds which dominate Dani territory.

The weather in the Valley is predominantly sunny and trekking along the river amidst the terraced farmlands and wondrous forests is a trekker’s paradise. Trails are usually clear and maintained as local people travel them and this makes the trekking pretty comfortable.

The Yali
The Yali tribe lives high up along the valley ridges in the Jayawijaya mountains. The land here is rugged and thinly populated. The tribes-people live in wooden huts with roofs made of tree-bark and they are grouped into small compounds. A vegetable garden and dense rainforest will surround each compound.

Trekking in the Yali area is more strenuous than in the lower reaches of the Valley but it is perfect for the fit trekker who wants to experience truly virgin rainforest and the unique people who live amidst it.

In summary, The Baliem Valley will provide a never to be forgotten experience. The inhabitants of the valley are essentially peace-loving agrarians who welcome visitors wholeheartedly


Minggu, 26 September 2010

Berpetualang di dalam Gua Petruk, Kebumen

photo: www.kebumen.go.id 

Di kawasan wisata eko-karst Gombong Selatan,Kebumen, terdapat gua alami yang dinamakan Gua Petruk. Gua ini berada di dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, kabupaten Kebumen, atau sekitar 4,5 km dari Jatijajar menuju ke arah selatan. 

Gua ini dapat ditelusuri sejauh 300 meter dalam kondisi masih alamiah dan tidak banyak perubahan campur tangan pengelola. Menurut salah seorang pakar Gua dari luar negeri mengatakan, bahwa Gua Petruk ini merupakan Gua terindah di seantero Nusantara. Untuk itu, pakar Gua ini meminta pada Pemda Kebumen, agar Gua tersebut tetap dijaga kealamiannya. Bahkan, untuk diterangi dengan listrik, juga tak diperkenankan. Namun pengunjung jangan khawatir, di sini tersedia guide atau pemandu yang selalu siap mengantar disertai dengan peralatan lampu yang memadai.

Di dalam, Anda akan diajak untuk menelusuri Gua Petruk, seakan-akan masuk ke dalam perut bumi yang gelap, tetapi menyimpan hiasan-hiasan batu yang luar biasa aneh dan indahnya. Saking anehnya bentuk-bentuk stalaktit dan stalagmitnya, nama-namanya pun terdengar aneh, seram, atau lucu, misalnya: batu layon (mirip mayat), bajul putih (mirip buaya), atau batu helikopter, dan lain-lain. Bahkan stalaktit yang menggantung di lantai Gua yang rendah yang bulat-bulat, dinamai - maaf - batu payudara.

Gua ini sebetulnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Bagian pertama atau di lantai 1 hanya terdapat kelelawar dengan bau kurang sedap dan beterbangan ke sana kemari. Sedangkan untuk Gua kedua dalam lokasi tersebut diberi nama Gua Semar. Dalam Gua inilah kita akan disuguhi dengan pemandangan dari bebatuan yang cukup indah dan mempesona. Sedangkan gua yang terakhir, disebut Gua Petruk, karena dalam Gua tersebutlah terdapat batu yang mempunyai wujud seperti hidungnya Petruk. Sayang, karena ulah Belanda yang waktu itu melakukan penambangan fosfat, hidung Petruk yang merupakan Logo dari Gua tersebut putus dan kini sudah tak kelihatan lagi.

Bukan Gua Petruk, kalau tidak menyimpan sejumlah bebatuan yang beraneka ragam bentuk yang begitu menawan, indah dan membuat orang yang melihatnya berdecak-decak kekaguman. Bahkan, membuat orang enggan keluar dari gua tersebut. Bukan tanpa alasan, karena di dalam gua ini juga terlihat adanya sejumlah sendang dan air terjun yang bahkan airnya mirip busa sabun. 

Sambil menikmati bebatuan yang banyak aneka ragam dan bentuknya, telinga kita akan mendengarkan bunyi tik ...tik. .. tiiiikkkk, dari air yang jatuh dari langit gua, atau dari bebatuan yang indah, sehingga menambah kenyamanan kita untuk menyaksikan keajaiban Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Cara Mencapai Daerah Ini
Secara reguler objek wisata ini dilalui oleh kendaraan umum, jadi untuk sampai ke lokasi tidaklah sulit. Dari Kebumen, naiklah kendaraan umum dan turunlah di Gombong. Dari sini kemudian dilanjutkan dengan naik angkutan wisata. Apabila Anda menggunakan kendaraan pribadi, maka jarak yang harus ditempuh dari Gombong menuju Gua Petruk adalah sekitar 25 Km


Tempat Menginap
Di sepanjang jalur Kebumen " Gombong Anda akan menemukan berbagai penginapan yang dapat Anda jadikan pilihan untuk bermalam.


Tempat Bersantap
Banyak penjual makanan dan minuman disepanjang jalan menuju Gua Petruk. Jangan lupa pula untuk mencicipi Es Legen dan Sate Ambal, salah satu makanan dan minuman khas daerah Gombong Selatan.


Berkeliling
Jalan satu-satunya untuk mengelilingi Gua ini hanyalah dengan berjalan kaki.


Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan
  • Menikmati keindahan stalaktit dan stalagmite
  • Caving
Buah Tangan
  • Anda bisa membeli cinderamata seperti dompet, tas, kipas, topi dan lainnya yang terdapat di kios-kios cinderamata sekitar areal parkir.
  • Atau jika Anda lebih memilih membeli keramik terukir sebagai buah tangan, maka Desa Jatisari dapat menjadi pilihan. Desa tersebut terletak di 6 km timur kota Kebumen.
Tips
  • Sebaiknya menyiapkan peralatan berupa sepatu dari plastik atau kare, sehingga tidak bisa tembus air.
  • Hindari sepatu yang memiliki hak.
  • Peralatan lain yang perlu dipersiapkan adalah senter yang cukup terang dan topi untuk menghindari benturan.
  • Bila perlu, bawalah Kamera atau handycam untuk mengabadikan keindahan Stalagmit dan Stalaktit yang ada di dalam Gua Petruk.
  • Berhati-hatilah melangkah selama berada di dalam Gua. Hal ini dikarenakan lantai Gua yang licin akibat tetesan air yang jatuh dari langit Gua.
  • Dilarang membuang sampah plastik di dalam Gua

http://www.budpar.go.id/page.php?ic=40&id=1179

Pulau Umang, Pulau Kecil nan Cantik



Sesekali melepas waktu senggang di sebuah pulau mungil, mungkin asyik juga. Dan Pulau Umang, satu pulau mungil yang terletak di Teluk Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, bisa Anda pilih. Pulau pribadi yang dibuka untuk umum dalam bentuk resort dan spa ini bisa ditempuh hanya dalam waktu 10 menit menggunakan kapal motor kecil dari Sumur. Sedangkan untuk menjangkau dermaga kecil yang digunakan untuk menyebrang ke Pulau Umang butuh waktu empat jam perjalanan darat dari Jakarta. Namun, pelayanan penyeberangan ke pulau seluas lima hektare ini tidak tersedia selama 24 jam, hanya sampai pukul 21.00 WIB.

Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, bisa menggunakan fasilitas jalan tol Jakarta- Merak. Dua jam melaju di jalan tol, keluarlah di pintu tol Serang Timur. Dari sini, Anda masih harus memacu kendaraan selama dua jam lagi untuk sampai ke Sumur. Bagi pelancong yang membawa mobil sendiri, Pulau Umang Resort & Spa menyediakan garasi penyimpanan mobil selama pelancong berada di Pulau Umang. Bila enggan membawa kendaraan sendiri disediakan sarana transportasi melalui pemesanan.


Sejak berdiri pada akhir 2004 lalu, kawasan wisata ini menyediakan berbagai sarana olahraga air. Di antaranya snorkling, jet ski, dan banana boat. Perairan di sekitar Pulau Umang cukup aman untuk berbagai olahraga air ini karena ombak di sekitar pulau yang relatif tenang. Hal ini disebabkan letak pulau yang tidak langsung menghadap laut lepas, melainkan 'terhalang' oleh Ujung Kulon. Di samping itu, Pulau Umang juga sangat dekat dengan daratan.
Bagaimana dengan diving? Untuk sementara, Pulau Umang Resort & amp; Spa belum menyediakan sarana olahraga air yang satu ini. Salah satu alasannya, laut di sekitar pulau ini tidak cukup dalam (dangkal). Walau begitu, laut dangkal ini dihuni terumbu karang dan berbagai spesies ikan yang layak Anda saksikan keindahannya.

Untuk menikmati keindahan terumbu karang dan aneka spesies ikan laut dangkal itu, para pelancong harus menyeberang ke Pulau Oar. Tidak terlalu jauh. Pulau Oar terletak tepat di sebelah tenggara Pulau Umang, dan bisa dicapai dalam waktu sepuluh menit menggunakan perahu mesin biasa. Dan hanya sekitar 10 meter dari bibir pantai pulau ini, terumbu karang beraneka warna bisa dinikmati.

Pulau Oar merupakan pulau tidak berpenghuni. Hanya disediakan beberapa gazebo untuk tempat singgah sementara para pelancong yang ingin ber-snorkling. Pulau Umang Resort & Spa menyediakan instruktur yang siap membantu dan mengarahkan pelancong saat menikmati jet ski maupun saat snorkling.


Bagi pemula, sebelum snorkling akan diberi pengarahan oleh instruktur. Bagi yang belum terbiasa, tidak disarankan menggunakan fin, sejenis sirip untuk membantu gerakan kaki di dalam air. Hal itu semata-mata untuk menghindari rusaknya karang karena terinjak. Jadi, selama snorkling, peserta tidak boleh menginjakkan kakinya ke dasar laut, hanya di permukaan saja.

Ingin berenang di laut, boleh-boleh saja. Namun, mesti hati-hati. Jangan gara-gara terlalu menikmati terumbu karang di bawah permukaan laut, Anda berenang terlalu jauh ke tengah laut. Ombak laut bisa membuat badan sulit bergerak. Dan semakin sore menjelang laut pasang, ombak semakin kencang. Karena itu, untuk amannya, lebih baik ber-snorkling di pagi atau siang hari karena ombak lebih tenang.

Selain beberapa olahraga air, pengunjung yang bermalam di Pulau Umang juga bisa berenang di kolam renang yang langsung menghadap ke laut. Pilihan lain, berendam air hangat di yakuzi yang juga menghadap ke laut. Pulau Umang memang mungil. Itu mengapa, Anda bisa mengitarinya dalam waktu singkat, tanpa lelah. Hanya perlu 10 menit untuk mengitari pulau sekaligus menikmati pemandangan. Bila beruntung, pelancong bisa bertemu si umang. Siapa dia?

Dia adalah hewan yang merupakan penghuni asli pulau ini. Umang memiliki rumah berupa cangkang. Acapkali binatang ini meninggalkan cangkangnya yang mereka anggap sebagai rumah untuk pindah ke cangkang lain. Tentu, perpindahan ini ada maksudnya. Mereka pindah cangkang karena tubuh mereka makin besar. Alhasil, mereka pun butuh cangkang yang lebih besar. Cangkang-cangkang yang besar itu merupakan 'warisan' dari umang-umang yang hidup sebelum mereka. Karena itu, pelancong yang datang ke Pulau Umang dilarang keras mengambil kerang maupun cangkang yang ada di pulau tersebut.


Anda yang hobi memancing, jangan lupa merasakan pengalaman memancing di fishing plat form atau sering disebut bagan oleh para nelayan. Di atas bagan yang disediakan oleh hotel, pelancong bisa puas memancing. Bagan ini ditempatkan agak menjorok ke laut. Di tengah bagan juga tersedia gubuk kecil untuk sekadar bersantai, menikmati makanan dan minuman.

Satu lagi fasilitas yang layak Anda nikmati adalah spa. Bila selama ini Anda kerap menjalani perawatan spa, mungkin spa di pulau ini akan memberi sesuatu yang berbeda. Salah satu penyebabnya, Anda akan menjalani spa sembari menghirup udara laut nan segar. Tempat yang digunakan untuk spa juga lumayan unik, yaitu sebuah gazebo beratap rumbai. Asal tahu saja, gazebo tersebut, dua dari empat kaki penopangnya, ditanam di laut. Jenis perawatan spa yang tersedia pun sangat beragam. Ada pijat ala Indonesia, ada pula pijat mancanegara, seperti Prancis dan Swedia. Anda pilih yang mana?



sumber : http://liburan.info/content/view/965/43/lang,indonesian/

Kamis, 23 September 2010

Suku Dayak









Sejarah
Dayak atau Daya adalah suku-suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya terestrial (daratan, bukan budaya maritim). Sebutan ini adalah sebutan umum karena orang Daya terdiri dari beragam budaya dan bahasa. Dalam arti sempit, Dayak hanya mengacu kepada suku Ngaju (rumpun Ot Danum) di Kalimantan Tengah, sedangkan arti yang luas suku Dayak terdiri atas 6 rumpun suku. Suku Bukit di Kalimantan Selatan dan Rumpun Iban diperkirakan merupakan suku Dayak yang menyeberang dari pulau Sumatera. Sedangkan suku Maloh di Kalimantan Barat perkirakan merupakan suku Dayak yang datang dari pulau Sulawesi. Penduduk Madagaskar menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa Maanyan, salah satu bahasa Dayak (Rumpun Barito).

Ada banyak pendapat tentang asal-usul orang Dayak. Sejauh ini belum ada yang sungguh memuaskan. Pendapat umumnya menempatkan orang Dayak sebagai salah satu kelompok suku asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan. Gagasan (penduduk asli) ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu, diduga nenek moyang orang Dayak berasal dari beberapa gelombang migrasi.

Gelombang pertama terjadi kira-kira 1 juta tahun yang lalu tepatnya pada periode Interglasial-Pleistosen. Kelompok ini terdiri dari ras Australoid (ras manusia pre-historis yang berasal dari Afrika). Pada zaman Pre-neolitikum, kurang lebih 40.000-20.000 tahun lampau, datang lagi kelompok suku semi nomaden (tergolong manusia modern, Homo sapiens ras Mongoloid). Penggalian arkeologis di Niah-Serawak, Madai dan Baturong-Sabah membuktikan bahwa kelompok ini sudah menggunakan alat-alat dari batu, hidup berburu dan mengumpulkan hasil hutan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga sudah mengenal teknologi api. Kelompok ketiga datang kurang lebih 5000 tahun silam. Mereka ini berasal dari daratan Asia dan tergolong dalam ras Mongoloid juga. Kelompok ini sudah hidup menetap dalam satu komunitas rumah komunal (rumah panjang?) dan mengenal tekhnik pertanian lahan kering (berladang). Gelombang migrasi itu masih terus berlanjut hingga abad 21 ini. Teori ini sekaligus menjelaskan mengapa orang Dayak memiliki begitu banyak varian baik dalam bahasa maupun karakteristik budaya.

Dayak pada masa kini

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni:[Kenyah-Kayan-Bahau], [Ot Danum], [Iban], [Murut], [Klemantan] dan [Punan]. Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-rumpun. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-rumpun, kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang,hasil budaya material seperti tembikar,[mandau], sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari. Perkampungan Dayak biasanya disebut: [lewu]/[lebu], sedangkan perkampungan kelompok suku-suku Melayu disebut: [benua]/[banua]. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda,tetapi di daerah perkampungan suku-suku Melayu tidak ada sistem kepemimpinan adat kecuali raja-raja lokal.

Menurut Prof. Lambut dari [Univesitas Lambung Mangkurat], secara rasial, manusia Dayak dapat dikelompokkan menjadi : – Dayak [Mongoloid] – Dayak [Melayu|Malayunoid] – Dayak [Australoid|Autrolo-Melanosoid] – Dayak [Heteronoid]

Senjata Sukubangsa Dayak
  1. Sipet/Sumpitan merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 – 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ – ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.
  2. Lonjo/Tombak. Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.
  3. Telawang / Perisai. Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.
  4. Mandau. Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.
  5. Dohong. Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.


Totok Bakakak (kode) yang umum dimengerti Sukubangsa Dayak
  1. Mengirim tombak yang telah di ikat rotan merah (telah dijernang) berarti menyatakan perang, dalam bahasa Dayak Ngaju “Asang”.
  2. Mengirim sirih dan pinang berarti si pengirim hendak melamar salah seorang gadis yang ada dalam rumah yang dikirimi sirih dan pinang.
  3. Mengirim seligi (salugi) berarti mohon bantuan, kampung dalam bahaya.
  4. Mengirim tombak bunu (tombak yang mata tombaknya diberi kapur) berarti mohon bantuan sebesar mungkin karena bila tidak, seluruh suku akan mendapat bahaya.
  5. Mengirim Abu, berarti ada rumah terbakar.
  6. Mengirim air dalam seruas bambu berarti ada keluarga yang telah mati tenggelam, harap lekas datang. Bila ada sanak keluarga yang meninggal karena tenggelam, pada saat mengabarkan berita duka kepada sanak keluarga, nama korban tidak disebutkan.
  7. Mengirim cawat yang dibakar ujungnya berarti salah seorang anggota keluarga yang telah tua meninggal dunia.
  8. Mengirim telor ayam, artinya ada orang datang dari jauh untuk menjual belanga, tempayan tajau.
  9. Daun sawang/jenjuang yang digaris (Cacak Burung) dan digantung di depan rumah, hal ini menunjukan bahwa dilarang naik/memasuki rumah tersebut karena adanya pantangan adat.
  10. Bila ditemukan pohon buah-buahan seperti misalnya langsat, rambutan, dsb, didekat batangnya ditemukan seligi dan digaris dengan kapur, berarti dilarang mengambil atau memetik buah yang ada dipohon itu.


Tradisi Penguburan

Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan :
  • penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat.
  • penguburan di dalam peti batu (dolmen)
  • penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.


Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan:
  1. penguburan tahap pertama (primer)
  2. penguburan tahap kedua (sekunder).


Penguburan sekunder

Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di goa. Di hulu sungai Bahau dan cabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kaltim, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Perkembangan terakhir, penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit.
Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni :
  • dikubur dalam tanah
  • diletakkan di pohon besar
  • dikremasi dalam upacara tiwah.


Prosesi penguburan sekunder

Prosesi penguburan sekunder
  1. Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah.
  2. Ijambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
  3. wara
  4. marabia
  5. mambatur (Dayak Maanyan)
  6. kwangkai (Dayak Benuaq)




*Sumber : WIKIPEDIA & http://dutacipta.wordpress.com/artikel-lain/suku-dayak/

Senin, 20 September 2010

(Sharing) Foto Liputan BB 20415 Padang - Sawahlunto 15/01/09



Sebelumnya mohon maaf kalau sudah agak "talaik"
Tapi rasanya topik tetntang Kereta Api di Sumatra Barat tidak pernah basi.

Foto-foto ini diambil pada tanggal 15 Januari 2008 lalu, saat Lokomotif BB 200415 melakukan perjalanan dari Stasiun Simpang Haru, Padang menuju Stasiun Sawahlunto (Museum Kereta Api Sawahlunto)

Perjalanan ini memakan waktu dari sekitar pukul 08.30 hingga jam 15.30 sore hari nya. Berikut foto2 nya.

Di Simpang Haru




Segera Berangkat




Di Jembatan Menjelang Kayutanam




Setelah melewati terowongan Kayutanam




Menuju Lembah Anai




Lewat Tepat di depan Air Terjun Lembah Anai




Jembatan Orange




Memeasuki kawasan Stasiun Padang Panjang (wah forgrounnya ga lupa nih )




Halo, alah di Padang Panjang ko ha!!




Kangen Kereta Api




Istirahat Sejenak Di Padang Panjang




Menuju Singkarak




Di Jembatan Ombilin




Di Rel Pinggir Danau Singkarak (wah danau nya ga kelihatan, kurang lengkap nih story fotonya )




Melewati Areal Pertanian di sekitar Danau Singkarak




Dan Petani pun berhenti bekerja (walau hanya sesaat)




Mak Itam dipasangi no nya yang diperbaharui




Mak Itam ka pai malala (cuma digeser 20 meter) tunggu saja tanggal mainnya




???? apo lo ko?? sempat-sempatnya hunting sunset di perjalanan pulang. Danau Singkarak



Tarimo Kasih banyak alah singgah

Muhammad Fadli

Post edited by: en84, at: 2009/02/01 14:44