Website Get Lost in Indonesia

Berbagi foto perjalanan kamu waktu nyasar di Indonesia bersama Losteners lainnya melalui website Get Lost in Indonesia

Mau #GLiIShirt? Klik di sini!

Tetap tampil keren selama nyasar di Indonesia bersama #GLiIShirt. Ayo dapatkan segera, Losteners!

Bali yang Selalu Membuat Kita Kembali

Bali adalah destinasi favorit di Indonesia yang tiada henti-hentinya dikunjungi setiap tahun oleh wisatawan. Apa saja atraksinya yang membuat kita selalu kembali ke sana?

Galeri Curug Cilember

Berada di Ibukota tidak boleh menyurutkan niat untuk 'nyasar' keliling Indonesia. Mulai saja dari destinasi yang dekat seperti Curug Cilember.

Jogjakarta : Keramahan dan Budaya yang Membuat Rindu

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Inilah kerinduan pada Yogyakarta yang tersurat dalam sebuah lagu. Mungkinkah harus selalu kembali ke sana setiap waktu?

Selasa, 31 Mei 2011

Foto Foto Flores (lanjutan)


Mari intip Flores lebih banyak lagi! Jangan lupa untuk beri komentar, bisa berupa link blog kamu atau pengalaman kamu ke Flores juga ya. :D


Minggu, 29 Mei 2011

Flores


Tanah Flores dari Maumere hingga Labuan Bajo jauhlah dari gersang. Hijau lembab dikelilingi oleh pegunungan. Kondisi jalan mulus tanpa lubang, berkelok naik turun mengikuti alur pegunungan disepanjang perjalanan. Memang waktu itu
musim penghujan bulan Desember 2010.

Satu setengah jam penerbangan dari Denpasar menuju Bandara Wai Oti, Maumere. Masih terkagum-kagum melihat pemandangan dari atas pesawat, terlihat lekukan-lekukan kepulauan timur Indonesia, pasir putih dan gradasi warna laut. 3 Desember 2010, hari ini Maumere cerah sekali.

Sayang,saya hanya melintasi saja kota Maumere, seorang teman sudah menunggu kedatangan saya dan kami bergegas menuju Wolowaru. Kecamatan Wolowaru termasuk dalam kabupaten Ende 5 jam perjalanan dari Maumere ke Wolowaru, motor ini melaju dan kami sesekali berhenti untuk merenggankan otot-otot. Sempat kami berhenti dipantai, tapi saya lupa nama pantai itu.
Wolowaru terletak diantara Maumere dan Ende, desa terdekat dengan Moni
dimana Danau Kelimutu, danau vulkanik dengan 3 warna yang terkenal itu menjadi daya tarik wisatawan. Temanku ini mempunyai rumah di Wolowaru, beliau berbaik hati menyilakanku menginap dirumahnya. Istri dan 2 orang anaknya menyambut kami sore itu. Beberapa kali saya memperhatikan didepan rumah penduduk ada pusara perkuburan. Sama halnya dengan rumah teman saya ini. Rupanya didaerah itu tidak ada perkuburan umum, sehingga keluarga yang meninggal dikubur didepan halaman rumah mereka. Pusara yang dihiasi porselen dan didisain cantik, sama sekali tidak tampak seram.

Niat hati untuk bangun pagi sekali, melihat ramainya pasar Wolowaru dimana system barter berlaku tapi apadaya rasa malas mengalahkan keinginan untuk bangun pagi.
Hari ini akan menjadi perjalanan pajang pertama saya overland Maumere – Labuan Bajo menggunakan motor. Sekitar jam 8 pagi kami beranjak dari rumah menuju ke Moni.

Moni adalah desa terdekat menuju Danau 3 warna Gunung Kelimutu, banyak terdapat homestay disana, udara dingin menembus jaket saya. Hari ini cerah, dan semoga kami tidak bertemu kabut dipuncak Kelimutu nanti.
Gunung Kelimutu masuk dalam wilayah kabupaten Ende adalah gunung berapi yang memiliki 3 kawah dipuncaknya. Kawah-kawah ini yang membentuk danau sekarang memiliki 3 warna yang berbeda. Setiap kawahnya selain memiliki warna yang berbeda juga punya nama dan cerita yang berbeda. "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan
"Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Pada waktu kami kesana danau yang letaknya bersebelahan "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" dan "Tiwu Ata Polo" , berwarna sama hijau muda dan ada sedikit corak putih, sementara warna danau "Tiwu Ata Mbupu" yang terletak sekitar 500 meter dari kedua danau tadi berwarna Hijau pekat dan cenderung hitam. Sejak tahun 2009 danau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" dan "Tiwu Ata Polo", memiliki warna yang sama, sebelumnya "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" berwarna biru sedangkan "Tiwu Ata Polo" berwarna merah. Dan danau "Tiwu Ata Mbupu", sebelumnya berwarna putih. Perubahan warna ini menurut temanku terjadi setiap 3 tahun sekali.

Pukul 10.30 pagi dan kabut sudah mulai turun. Motor kembali melaju menuju Desa adat Jopu. Temanku ini tinggal di Wolowaru namun beliau asli orang Jopu. Tidak seluruhnya di Desa Jopu ini berdiri rumah adat. Kondisi desa ini sudah membaur dengan rumah penduduk sekitar yang tidak berbentuk rumah adat. Rumah adat Jopu memiliki atap

berbentuk jajaran genjang terbuat dari dedauan kering. Rumah berbentuk rumah panggung dan dibawah rumah tersebut biasa para perempuan menenun kait ikat. Desa Jopu adalah masyarakat keturunan suku Lio, suku yang tertua di Flores Tengah. Seperti saudara jauh yang datang menjengguk, saya disambut dengan hangat oleh saudara-saudara teman saya. Mereka memberi kesempata
n pada saya untuk mengenakan kain ikat tenun dan masuk kedalam rumah adat. Menujukan beberapa beda pusaka serta peti-peti berisi benda pusaka yang tidak dapat saya lihat. Semua alat-alat itu untuk keperluan upacara adat, seperti perobakan rumah adat yang dilakukan setiap 5 tahun sekali. Biasanya atap rumah adat diperbaharui setiap 5 tahun sekali. Ada beberapa peti juga untuk menyimpan tulang belulang leluhur mereka.

Sehabis makan siang dengan keluarga di Jopu, kami melanjutkan ke Desa adat Nggela. Kebetulan hari ini hari Sabtu, tak banyak kegiatan dilakukan didesa Nggela. Menurut temanku tidak ada kegiatan bekerja di hari Sabtu dan Minggu, termasuk kegiatan tenun pun tak mereka lakukan. Ini karena hari Sabtu dan Minggu diperuntukan untuk hari keluarga dan beribadah. Desa Nggela termasuk dalam kecamatan Wolojita, desa ini menyerupai komplek kecil dengan sekitar 17 rumah adat mengelilingi satu lapangan kecil. Bentuk rumah bisa dibilang sama dengan rumah adat di Jopu. Dilapangan ini saya melihat podium dan tumpukan batu tersusun untuk upacara adat. Dan yang unik saya melihat satu kuburan berbentuk kapal. Konon kuburan tersebut adalah kubur dari kapten kapal yang terdampar di Nggela, dan mendirikan perkampungan itu. Samara-samar dibadan kuburan kapal itu terdapat tulisan AMBON.

Hari sudah semakin sore, target kami jam 3 sore sudah harus mulai perjalanan menuju Ende. Wolojita ke kabupaten Ende sekitar 2 jam, sepanjang jalan berliku tajam, dan dikelilingi oleh pegunungan hijau, udara dingin dan lembab tak lepas mengikuti.

Ende merepakan wilayah kabupaten, terdapat Bandar udara kecil di Ende.
Harusnya sore ini ada seorang teman saya lagi yang menjemput untuk
melanjutkan perjalanan dari Ende ke Bajawa. Apa boleh buat teman saya tak kunjung datang untuk menjemput. Waktu sudah menujukan pukul 5 sore, saya sedikit pesimis ada travel untuk menuju Bajawa malam ini. Akhirnya dengan bantuan seorang guide di Bajawa, saya berhasil mendapatkan travel untuk menuju Bajawa. Pantai sepanjang Ende menuju luar wilayah kabupaten, memerah, menjelang matahari terbenam. Menakjubkan.

11 malam di Bajawa, guide yang membantu saya mencarikan travel sudah ada dipenginapan Korina. Bajawa adalah ibu kota Kabupaten Ngada. Dari beberapa
literature saya sudah mendapatkan info kalau Bajawa merupakan tinggi dan dingin. Guide ini yang akan menjadi teman seperjalanan dari Bajawa menuju Labuan Bajo.

Esok hari, 5 Desember. Guide sudah menunggu saya diruang makan penginapan, hari ini tujuan kami adalah Desa traditional Bena.
Desa Bena terletak di kaki gunung Inerie Hari ini hari Minggu sepanjang jalan menuju desa Bena saya beberapa kali bertemu dengan rombongan penduduk yang hendak pergi beribadah, dengan menggunakan pakaian adat Flores. Kain
tenun ikat, untuk sarungnya, serta selendang tenun ikat. Pria dan wanita memakai kain itu untuk pergi ke gereja. Pada halaman rumah penduduk dihiasi oleh ngadhu dan bagha. Ngadhu adalah bangunan miniatur berbentuk seperti payung sebagai simbol keluarga pihak laki-laki yang berasal dari Benda dan Bagha adalah
bangunan miniatur berbentuk seperti rumah sebagai simbol keluarga pihak perempuan yang berasal dari Bena. Tradisi mereka menganut sistem matrilineal, mengikuti garis keturunan wanita. Perkawinan dengan suku lain menghasilkan klan-klan baru.

Tibalah kami didesa tradisional Bena, komplek desa tradisional cukup luas. Seperti halnya di Nggela, desa ini juga mengelilingi satu lapangan luas, bedanya kontur tanah didesa Bena berbukit, dan rumah-rumah adat itupun susunannya mengikuti kontur tanah. Peninggalan megalith didesa Bena lebih banyak
dibanding dengan Jopu dan Nggela. Banyak altar-altar dari susunan batu untuk upacara adat dan persembahan. Selain susunan batu yang diperuntukan upacara adat dan

persembahan ada juga yang merupakan kuburan-kuburan tua. Rumah adat di Bena tidak sebesar di Jopu ataupun Nggela, namun diatas atap rumah terdapat simbol-simbol. Simbol miniatur Ngadhu dan Bagha, simbol boneka kecil di atap, menandakan rumah nenek moyang lelaki atau disebut juga sao saka lobo.
Sebelum pergi meninggalkan desa itu kami sempat singgah sebentar dirumah
salah satu penduduk di desa tradisional Bena untuk menikmati secangkir kopi. Target kami meninggalkan Bajawa sekitar pukul 1 siang. Sepulang dari desa Bena, rintik hujan mulai menyambut. Sebentar saja terang, namun kembali rintik hujan menghampiri, hampir sepanjang perjalanan Bajawa – Ruteng. Dingin
menusuk tulang, beberapa kali kami berhenti untuk merenggangkan otot-otot sambil menikmati pemandangan seputar kami. Semakin jauh kami meninggalkan Bajawa namun gunung Inerie, samar-samar tetap terlihat.

Sempat kami berhenti Aimere, perjalanan antara Bajawa – Ruteng. Aimere terkenal dengan arak rumah produksi arak dan menyebar disepanjang jalan
diwilayah Aimere. Melihat proses pembuatan arak di Aimere-Flores. Air dari buah pohon arak di fermentasi sekitar 3 hari, dan kemudian masuk pada proses penyulingan. Untuk mendapatkan arak dengan alkohol yang tinggi diperlukan berkali-kali proses penyulingan (bisa 3-5kali). tetesan air dari hasil penyulingan air buah arak menghasilkan akan menghasilkan arak. tetesan air yang keluar dari penyulingan menentukan kadar alkohol dalam arak. tetesan yang cepat berarti kadar alkohol rendah, sementara tetesan yang lambat berarti kadar alkohol tinggi.
Kurang lebih pukul 5.30 sore ini kami sudah memasuki wilayah terluar dari Ruteng. Berhentilah kami di warung kecil yang menyediakan mie instant dan minuman hangat. Makanan dan minuman ternikmat saat badan lelah dan kedinginan. Tak disangka dibalik tembok yang menjadi tempat sandar warung ini terdapat satu danau indah. Danau ini adalah danau Ranamese yang menjadi
daerah tujuan wisata juga. Danau hening walau tempatnya tepat disisi jalan, dan orang tak akan menyadarinya karena danau ini tertutup tembok tinggi. Rasanya ingin menyusuri danau ini, sayang hari sudah mulai gelap dan rintik hujan tak juga berhenti.

7.30 malam, akhirnya kami tiba di pusat wilayah kecamatan Ruteng. Ruteng tidak kalah dinginnya dengan Bajawa, Ruteng adalah sebuah Kecamatan yang juga
merupakan ibu kota Kabupaten Manggarai. Hari ini sungguh melelahkan, sebelum mata terpejam saya berguman, .. “tinggal 1 tempat lagi dan saya tiba di LabuanBajo”.

6 Desember, pukul 8 pagi kami sudah siap kembali kemedan tempur perjalanan. Guide saya sudah siap dengan motornya. Hari ini daerah sasaran kami adalah situs Liang Bua, dan persawahan Cara.
Liang Bua adalah pusat penelitian dan pengembangan arkeologi. Tempat ini merupakan gua. Tempat penggalian fosil purba dan ditempat inilah ditemukan fosil kerangaka mahluk yang mirip dengan manusia Pada bulan September 2003 ditemukan kerangka unik yang kemudian diidentifikasi sebagai Homo floresiensis. Bersamaan dengan manusia purba itu ditemukan pula perkakas batu yang dikenal telah digunakan oleh Homo erectus (seperti yang ditemukan di Sangiran) serta sisa-sisa tulang Stegodon (gajah purba) kerdil, biawak raksasa, serta tikus besar. Namun ketika kami kesana, tempat ini tertutup rapat, tak bisa kami masuk kedalam gua. Tak dapat keterangan sejak kapan situs Liang Bua ditutup dan tidak ada kegiatan penggalian lagi.

Seperti tanah Jawa, di Ruteng ini terhampar petak-petak sawah. Pada saat itu sawah menghijau. Sempat kami berkeliling kesalah satu persawahan yang indah, melihat dari dekat kegiatan petani yang sedang menggiling padi ataupun
menanam padi. Cukup lama kami berkeliling menikmati pemandangan sawah.
Pematang-pematang sawah itu juga ditanam membentuk tangga seperti Tegalalang di Ubud-Bali. Bedanya hamparan sawah ini jauh lebih luas dari yang pernah saya lihat di Jawa ataupun diBali. Tak pernah saya menyangka ada tempat seperti ini di Flores.

Cara terletak diluar wilayah Ruteng. Adalah persawah dengan bentuk pematang seperti sarang laba-laba yang disebut Lingko. Konon bentuk ini diambil untuk memudahkan pembagian waris sawah dengan adil kepada pihak keluarga yang memiliki sawah.

Melanjutkan perjalanan dari Ruteng ke Labuan Bajo, hujan kembali menemani. Kami melintasi daerah persawah Borong. Area seluas 31.000 ha, ditanami padi
dan juga tanaman holtikultura lainnya. Dari kejauhan terlihat kembali pegunungan yang telah ditutupi kabut tebal, pertanda perjalanan dari Ruteng – Labuan Bajo akan ditemani hujan deras. Hari terakhir overland dengan motor ini terasa lebih berat daripada perjalanan dari Bajawa – Ruteng, ini mungkin karena kondisi badan saya yang sudah semakin lelah. Melintasi pegunungan ini motor kami melaju, hujan, dingin, letih, lengkap sudah. Ditengah perjalanan kami berhenti istirahat sebentar. Istirahat kali ini sangat istimewa. Segerombolan anak SD melintasi kami. Pandangan mata mereka, membuat saya terusik. Menatap penuh curiga dan takut. Spontan saya berteriak pada mereka. “Heeeeyyy mau foto ngga?”. Pasukan berseragam putih merah itu kabur kocar-kacir. Hanya tersisa 10 orang yang masih terdiam terpaku ditempat mereka berdiri. Saya hampiri anak-anak itu dan dengan lebih lembut saya mengiba “Hai, boleh foto ngga?”. Berhasil saya mendapatkan foto sekitar 7 orang anak pertama. 2 kali sesi foto dan lalu mereka kabur meninggalkan saya. Saya biarkan mereka berhamburan kejalan, dan saya tetap sibuk mengambil foto mereka sambil berteriak, “foto dari jauh yaaa”. Tak lama sebagian dari mereka bersorak-sorak gembira. Tanda baik pikir saya. Lalu saya panggil mereka, “Heeey mau liat fotonya ngga?”. Mungkin sekitar 20 anak mulai menyerbu saya melihat foto-foto mereka. Mereka senang, dan memangil teman-teman lainnya.

Kini pasukan berseragam putih merah itu mengerubuti saya dan mereka mulai
merenggek untuk difoto seorang sendiri-sendiri.
Betu-betul obat lelah mujarab. Semangat saya kembali pulih berkat mereka. Tawa mereka, rasa penasaran mereka. Saya lihat pakaian sederhana mereka, sebagian menggunakan sepatu sebagian tidak, sebagian punya tas sebagian tidak. Mereka sekolah, mereka sekolah walau harus berjalan jauh.
Satu dari mereka akan menjadi orang besar kelak.
Guide saya menunjuk satu teluk yang penuh dengan kapal dari kejauhan dan dia berkata : “Itu Labuan Bajo!!”.

Labuan Bajo termasuk dalam kabupaten Manggarai Barat. Tempat ini sangat terkenal karena adanya pulau Komodo dan pulau-pulau lain yang indah.
Memasuki Labuan Bajo, udara yang dingin mendadak hilang dan berganti dengan panas, khas daerah pesisir pantai. Pukul 5 sore kami masuk Labuan Bajo. Walau sore itu panas di Labuan Bajo namun awan gelap tak mau pergi dari langit. Tak membiarkan saya menikmati matahari terbenam di Labuan Bajo. Guide saya berkelakar, : “itu sebab supaya Inka kembali lagi ke Labuan Bajo untuk bekeliling Pulau Komodo dan sekitarnya”. Memang betul, walau sudah sampai di Labuan Bajo, namun waktu tak mengizinkan saya untuk menjelajahi Pulau Komodo dan pulau-pulau lainnya. Esok saya sudah harus terbang dari Labuan Bajo menuju Denpasar dan melajutkan ke Jakarta.

foto foto tentang Flores ini di blog selanjutnya yaaa...

catatan perjalanan ini ditulis oleh : Inka


Mancur's : Mt.Bromo now, After eruption












:astig:
Perjalanan ini bermula dari obrolan dan hasil kumpul-kumpul bersama anggota genk (bukan genk motor yg "berandalan", tapi sebuah ajang kumpul-sharing-belajar bersama) Mancur-Mahasiswa Advancur. Kami, berangan-angan untuk muncak alias mendaki Gunung Bromo, Probolinggo-Jawa Timur. Berhubung kesibukan kami di tengah-tengah dunia pendidikan sebagai mahasiswa/i, rencana yang sebenarnya telah disusun lama pun akhirnya kesampaian juga,tepatnya baru kesampaian kemarin 28-29 Mei 2011. Walau pun mimpi untuk mencapai puncak Bromo tidak tersampaikan, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk menuju ke sana (status Bromo yg masih dalam tingkat Siaga).

Ini adalah sekelumit perjalanan kami di salah satu pesona keindahan bumi nusantara kita.

Jumat, 27 mei 2011 - sore hari
Kami, 4 orang dari Mancur (kawan-kawan Mancur lainnya sedang berhalangan dan tidak ikut dalam perjalan kali ini), berkumpul di rumah saudara kami, Bayu, untuk melakukan persiapan dan beristirahat sebelum melakukan perjalanan menuju Gunung Bromo esok hari. Checklist barang bawaan pun dilakukan dan siap untuk dibawa menuju tempat tujuan kami.

Sabtu, 28 Mei 2011 - pagi hari, sekitar pukul 07.00 WIB
Persiapan keberangkatan dilakukan, menaikkan barang-barang bawaan ke dalam kendaraan (yang kami kendarai sendiri). Setelah menyantap sarapan, yang telah disediakan oleh Keluarga saudara Bayu (tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada keluarga Bayu, yang telah kami anggap keluarga sendiri), kami pun meluncur dari Surabaya menuju tujuan kami dengan memanjatkan doa terlebih dahulu agar selamat dalam perjalanan dan sampai di tujuan.

- siang hari, sekitar pukul 12.30 WIB
Kami memasuki kota Probolinggo, beristirahat sejenak sambil menyantap makan siang. Makan siang kami kali ini disediakan oleh keluarga Zeezaa, saudara kami yang ikut dalam perjalanan kali ini (pulang kampung menemui orangtua di Probolinggo). Tentunya enak, mengenyangkan, dan gratis. Terima kasih untuk Zeezaa dan keluarga.Setelah menikmati makan siang, kami pun melanjutkan perjalanan.

- sekitar pukul 13.30 WIB
Kendaraan kami pun mulai memasuki kawasan pemukiman warga yang terletak di kawasan lereng kaki Gunung Bromo, pemukiman yang di dominasi oleh Suku Tengger. Tak berapa lama melewati pemukiman penduduk, kami pun sampai di pintu masuk kawasan wisata Gunung Bromo dan kemudian memarkir kendaraan kami. Pencarian penginapan pun di mulai. Kami memasuki satu per sau penginapan yang ada di sana, melalui berbagai tawaran dari penduduk lokal sana yang memang berprofesi sebagai "agen wisata". Setelah beberapa kali keluar-masuk, akhirnya kami pun menetapkan penginapan yang akan kami tempati selama kami berada di sana. Harga penginapan pun cukup terjangkau untuk kami, dengan modal patungan tentunya.

- sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB
Setelah check-in,beristirahat sejenak, dan melakukan sedikit persiapan, kami pun siap untuk melakukan perjalanan di sore hari menuju lautan pasir. Dan tak lupa, tujuan saya (yang beragama Hindu), adalah menuju Pura yang terletak di sana. Kami pun berjalan menyusuri lautan pasir, yang dulunya berwarna hitam, sekarang telah berubah menjadi cokelat bercampur dengan sisa abu vulkanik akibat erupsi beberapa bulan kemarin. Di tengah-tengah lautan pasir, jalan menuju Pura, terdapat semacam lembah kecil (sepertinya akibat aliran lahar dingin). Tak lupa kami pun mengabadikan diri di tempat itu. Tak berapa lama, kami pun sampai di pura dan saya pun melakukan persembahyangan sejenak sembari di temani sahabat-sahabat saya yang sedang beristirahat.

- sekitar pukul 16.30 WIB
Kami mengabadikan diri di dekat areal Pura dengan latar belakang gunung Bromo yang masih aktif dengan aktivitasnya mengeluarkan kepulan asap. Niat kami untuk mendaki menuju kawahnya pun urung dilakukan, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke penginapan, melewati kembali lautan pasir di temani senja.

- sekitar pukul 18.00 WIB
Kami sampai di depan penginapan, beristirahat sejenak sambil berbincang-bincang dengan salah seorang "agen wisata", Mas Indra. Ia menawari kami paket perjalanan untuk esok pagi dengan mengendarai kendaraan sewaan (Hardtop). Setelah melalui proses negosiasi dan perbincangan yang cukup lama, kami pun deal dengannya dan menerima tawaran dengan harga yang telah kami sepakati. Setelah itu, kami kembali ke kamar untuk santap malam seadanya dan beristirahat untuk perjalanan esok pagi.

- malam hari, di tengah dinginnya kawasan Bromo, di dalam kamar penginapan
Suasana ramai, tawa canda kami meledak. Ajang adu kentut terjadi! Sebuah rekor pun tercipta. Sebuah kebersamaan tanpa batas.

Minggu, 29 Mei 2011 - pagi hari sekitar pukul 03.30 WIB
Alarm kami berbunyi, pertanda harus bangun dan mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya. Menyongsong fajar di viewpoint Pananjakan 2 (Pananjakan 1 di tutup karena akses jalan menuju tempat tersebut terputus). Setelah siap, kami pun meluncur dengan kendaraan sewaan kami, ditemani oleh Mas Indra sebagai tour guide kami. Tak berapa lama, kami pun sampai di lokasi parkir dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki, mendaki menuju Pananjakan 2. Suasana dalam perjalanan cukup ramai, banyak wisatawan lokal dan mancanegara yang kami lihat di sana.

- sekitar pukul 05.00 WIB di Pananjakan 2
Fajar mulai menyongsong dari kejauhan. Udara yang segar dan cukup menusuk tulang mampu membuat saya gemetar. Tapi tak lama kemudian, tubuh saya pun hangat kembali setelah meminum segelas susu cokelat hangat pemberian Mas Indra. Matur suwun Mas.
Tak lupa kami mengabadikan momen di lokasi ini dengan bidikan lensa kamera yang telah kami siapkan. Benar-benar indah, melihat panorama spektakuler yang menjadi magnet wisatawan lokal dan mancanegara.

- pukul 06.00 WIB
Kami memutuskan untuk turun dari Pananjakan 2, kembali ke penginapan untuk menikmati sarapan dan bersiap untuk perjalanan berikutnya.
- sekitar pukul 08.00 WIB
Seusai sarapan yang mengenyangkan dan nikmat (berhubung lapar), kami pun melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya, Savana di kaki Bromo. Tentu saja, kembali dengan mengendarai mobil sewaan. Melewati lautan pasir dengan kondisi jalan offroad cukup menyenangkan bagi kami. Kendaraan yang kami tumpangi, disupiri oleh Pak Jayus yang cukup lihai, berlenggak-lenggok melewati jalanan yang bisa dibilang cukup ekstrem.

- sekitar pukul 08.45 WIB
Kami sampai di daerah Savana. Panorama di sana sangat spektakuler, dengan bukit dan lereng yang hijau, rerumputan yang bergradasi kuning dan hijau, langit biru dengan awan, dan sekali lagi saya katakan, "Wow!". Momen ini pun tak lupa untuk diabadikan.

- sekitar pukul 09.30 WIB
Puas menikmati keindahan Savana, kami pun kembali menuju penginapan untuk beristirahat, membersihkan diri dan bersiap untuk kembali ke Surabaya.

-pukul 11.45 WIB
Barang-barang bawaan kembali kami masukkan ke dalam mobil, setelah membersihkan diri di penginapan. Kami pun check-out dari sana, dan melanjutkan perjalanan kembali menuju Surabaya.

Dan, berakhirlah perjalanan singkat kami di Gunung Bromo. Walau berat untuk meninggalkan tempat itu. Tapi perjalanan kali ini bukanlah akhir dari perjalanan kami, ini adalah sebuah tolakan awal untuk melakukan perjalanan berikutnya. Mungkin kembali ke Bromo, atau mencoba menaklukkan Rinjani, atau melangkahkan kaki menuju tempat keren lainnya di Nusantara bahkan Dunia. Ada yang mau ikut??


Fin.
Mancur - Mahasiswa Advancur's Diary
by : IGN Widya Hadi S (me)
other photo documentations are here and here.

Best regards and thanks to :
Our GOD
Our Big Family of Mancur (Bayu, Zeeza, Nanu, Yoga, and other family members
)
Our Tour Guide @ Mt.Bromo (Mas indra & Pak Jayus)
and
Thank You INDONESIA!

Kamis, 26 Mei 2011

Sepenggal cerita "Kepiting RINJANI"


Berawal dari suatu mimpi untuk menapakkan kaki di Puncak terindah se-Asia Tenggara, saya bertekad bagaimanapun harus mewujudkannya. Akhirnya, bersatulah sama teman-teman dari Odong-Odong Traveller yg juga punya impian yg sama dgn saya. Saya, Ambar, Andre sepakat utk menuju Bali dgn ngeteng (angkot darat) dan teman lainnya berjumpa langsung di Bali.
  • 10 Mei 2011
Pkl. 11.00 kumpul di Stasiun Kota, naik kreta Gaya Baru Malam Selatan menuju Surabaya Gubeng dgn harga tiket Rp. 33.500
  • 11 Mei 2011
Pkl. 05.00 tiba di Stasiun Gubeng-Surabaya, sarapan istirahat sambil menunggu kereta selanjutnya menuju banyuwangi. Sebenarnya ada kereta Mutiara Timur yg brangkat Pkl. 09.00 dgn harga tiket Rp. 65.000, tp karna kami backpacker pantang mahal jadilah kita nunggu kereta Sri Tanjung jam Pkl. 14.00 dgn harga tiket cuma Rp.24.000. Sambil nunggu kita ber3 jalan-jalan seputar st. Gubeng dan ternyata ada Monumen Kapal Selam dgn harga tiket Rp. 5.000, jadilah kita masuk kesana sekalian sedikit blajar sejarah

Pkl. 14.00 brangkat menuju st. banyuwangi baru

Pkl. 22.00 tiba di st. Banyuwangi Baru, jalan kaki 10 menit kearah kanan langsung tiba di Pelabuhan Ketapang, nyebrang dgn harga tiket Rp. 6.000 selama 45 menit. Tapi pas didalam kapal saya nyari tumpangan bus yg menuju terminal ubung (menghindari calo/kerawanan karna uda malam bgt) cuma disuruh bayar Rp.35.000 smp terminal Ubung.
  • 12 Mei 2011
Pkl. 04.00 tiba di term. ubung lanjut naik taxi menuju Jl. Poppies 2 kepenginapan teman-teman yg sudah smp sana dgn harga Rp. 100.000 (dibagi ber3) (Denpasar macet). Setelah istirahat, pagi harinya langsung susur pantai di Bali dgn tujuan Dreamland, Pura Uluwatu, dan Pantai Padang-Padang, disana share cost Rp.100.000-/org (6org) uda termasuk sewa mobil, makan, dll. Mampir juga kerumah Sandra utk istirahat sejenak, dan numpang ngecash HP tentunya :D
Oya, di Dreamland jg sempat ketemu Adhi Wahyu, salah 1 OOTers yg lg dinas kerja disana (dunia memang sempit kawan). Ke Pura Uluwatu, hunting sunset bersama monyet-monyet liar dan jepitan rambut saya direbut olehnya :(

Pkl. 23.00 Lanjut perjalanan menuju P. Lombok naik bus Safari Dharma Raya (eksekutif dikit ahh) dgn harga Rp. 150.000 smp di Mataram
  • 13 Mei 2011
Pkl. 06.30 tiba di Mataram, lanjut menuju kostan Angga (temannya Mas Joedy) utk menitip barang-barang yg tdk diperlukan slama pendakian. Belanja ke Mataram Mall utk keperluan logistik di Gunung, dan selesai sholat Jumat langsung menuju terminal Mandalika utk melanjutkan perjalanan menuju Desa Sembalun. Dan ternyata di Term. Mandalika lumayan seram bagi kita org Pulau Jawa, setelah cekcok dgn beberapa calo akhirnya kita dpt engkel carteran dgn harga Rp. 400.000. Kenek engkelnya namanya Sam, masih belia dan lucu bgt bicara dgn logat Sasaknya.

Pkl. 19.00 tiba di desa Sembalun, langsung registrasi ke pos pendaftaran, packing ulang, ketemu porter (Mas Anto), dan lagi-lagi dpt tumpangan di desa Bawak Nau, yg lewat jalur tikus (ngirit 2jam pendakian). Dari Pos Pendaftaran ke desa Bawak Nau kita naik ojek yg berjarak 3km cuma bayar Rp. 5.000!!! Bagi masyarakat sana uang segitu sangat berarti, tp bagi kita yg sudah terbiasa hidup enak, ga tega rasanya ngasih uang segitu dgn jarak yg lumayan jauh :(
  • 14 Mei 2011
Pkl. 07.00 start pendakian!! Inilah the real adventure. Dimulai dari desa bawak nau, menuju puncak plawangan sembalun.

Jalur yg lumayan panjang, 9 bukit kita lintasi dgn padang savana sejauh mata memandang, panas, haus, tapi kebersamaan dgn 9 org tim Kepinting Rinjani tdk menyurutkan semangat saya utk meraih mimpi itu. Apapun dihadapi bersama, ngedrop? pasti... tp semua menjadi indah jika dilalui bersama sahabat seperjuangan. Sepanjang jalan saya melihat beberapa porter bawa pisang dan nanas, penasaran knp makanan itu wajib dibawa ya?? Haus dan lapar membuat saya dgn terpaksa meminta sebuah pisang kpd porter yg lewat. "Pak, saya boleh minta pisangnya?? saya lapar pak, dan logistik kami dibawa semua sama porter yg uda jalan duluan".. Porter: "Oh silahkan, ini satu saja yaa ga apa-apa kan dek?" Langsung aja saya rebut dan makan berdua sama ambar, ternyata beda bgt rasanya.. Sebuah pisang kalau digunung bisa 10x lezatnya dari pada dirumah, hehehe. Streamer yg ada di carrier saya pun sudah habis dikenyot sama yg lain, jadilah cuma bisa menelan ludah.

Pkl 17.00 akhirnya tiba di Puncak Plawangan Sembalun, dgn energi yg terkuras tentunya. Ika, Pegy, Andri, dan Mas Joedy masih dibawah tertinggal. Tp semua terbayar dgn indahnya alam disekitar, jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota. Rencana awal kita summit malam itu juga, tp dikarenakan kondisi fisik yg uda terkuras akhirnya keputusan bersama ditunda utk summit keesokan harinya.
Dingin yg menusuk tulang, terasa hangat dgn kebersamaan kita, makan bersama, tidur bersama, lebih dari sekedar sahabat, keluarga lbh tepatnya.
  • 15 Mei 2011
Bangun pagi terasa segar, sejuk, dan indah dimata, seperti mimpi... Disebelah kanan tampak Danau Segara Anak, sebelah kiri tampak padang savana yg begitu luas, dan didepan sana.. Puncak Rinjani tampak berdiri kokoh, menjunjung langit biru!! Ahh, aku serasa disurga dunia, jauh dari hingar bingar kehidupan modern, menyatu dgn alam, lbh menundukkan kepala akan kekuasaan Allah yg maha dahsyat. Aku ini apa? Hanya sesosok manusia angkuh yg bertekad menguasai keindahan milik Allah. Hanya sekedar gambar yg bisa aku ambil, hanya bisa sekedar menikmati indahnya alam ini. Rasa gembira, melihat kawan-kawan tampak bersemangat menikmati alam ini, ahh aku bahagia.
  • 16 Mei 2011
Pkl. 00.00 banguuunnn, its time to summit!!! Akhirnya, dgn segenap kekuatan fisik, mental dan diiringi doa kpn yg maha kuasa, kami (ayu, ika, ambar, amri, joedy, andri, andre, pegy, hady) bertekad satu, menuju Puncak Gunung Rinjani. Apapun, akan kita hadapi bersama. Jalur dimulai menyusuri Plawangan Sembalun, tampak barisan tenda yg masih begitu tenang (karna kita rombongan pertama yg summit, hehe). Jalur berpasir, angin menerpa, semakin membuat kita kuat karna kita harus melewatinya. Tampak pepohonan berjejer mengiringi langkah kita, alam yg begitu tenang, damai. 1jam pendakian mulai terasa jalur pendakian semakin menanjak. 

Ada lahan luas, dan kami pun beristirahat sejenak utk sekedar mengisi energi dgn makanan yg sudah dibawa dari bawah (Roti bakar, hhmm yummy). Istirahat 10menit, karna angin yg sudah semakin mengusir kita utk segera bergerak kedepan menuju puncak yg sudah mulai tampak. Dan ternyata, dibelakang kita tampak sinar-sinar lampu yg mengikuti, yg juga mempunyai tujuan 1, yaitu Puncak Gunung Rinjani.

Jalur yg terus berpasir lembut, membuat langkah semakin berat, juga jalur yg kanan-kiri jurang menganga menuntut konsentrasi agar badan seimbang. Terpaan angin yg kencang, dingin yg menusuk, energi pun mulai melemah seketika ada rombongan belaang yg melalui kita. Langkah mereka begitu cepat, semangat mendahului kita. Hanya desahan angin yg berbisik menyemangati diri, desahan nafas lelah mulai datang. Haus, lapar? tentu saja. Bukit demi bukit berpasir sudah dilalui tapi puncaknya semakin jauh (dekat dimata, jauh dikaki). Hampir diri ini menyerah, tp bayang-bayang mimpi itu yg menyemangati diri, bahwa saya bisa, kita bisa, bersama dalam setiap langkah, apapun yg terjadi. Dan sekitar 100meter menuju puncak langkah kaki ini benar-benar tdk bisa bergerak, semua bersandar pada sebuah batu besar dgn leher menengadah keatas. Dan saya pun berteriak "Ayoo, katanya mau menikmati sunrise dipuncak!!" Langsung kami pun berteriak semangat melangkahkan kaki.

Sinar mentari mulai bersinar seolah menyambut kedatangan kita, dan semakin banyak pula rombongan yg mendahului kita. Akhirnya, dgn sekuat tenaga, dgn kebersamaa, Pkl. 05.00 kita bisa menapakkan kaki di Puncak terindah se-Asia Tenggara, Puncak Gunung Rinjani (3726mdpl).

Sujud syukur kupanjatkan, Subhanallah, Allahu Akbar, atas semua kehendak Allah kami bisa bersama-sama seperjuangan melalui aral melintang demi satu impian. Tangis haru, tangis bahagia tak tertahan rasanya, kami pun berpelukan meluapkan segala kegembiraan dihati. Sulit rasanya membayangkan perasaan saat itu, tapi inilah wujud mimpi itu, atas izin Allah aku akhirnya bisa menapakkan kaki disana bersama kawan-kawan seperjuangan yg slalu bersama dalam keadaan apapun.

Tapi kenapa ditempat seindah itu, di Indonesia malah tampak orang-orang asing?? hanya kami dan beerapa orang yg asli pribumi. Ini Indonesia, tp knp orang asing yg lebih dominan??
Rasanya ingin slalu ada disana, tampak nunjauh disana Gunung Agung di Bali, Gunung Tambora di Sumbawa, dan juga terlihat Gili Trawangan, Meno, Air. Semua terlihat dari atas Puncak Gunung Rinjani!!! Pemandangan yg tdk pernah terbayangkan sebelumnya, Subhanallah indahnya. Kami pun satu-satunya rombongan yg paling rame, foto-foto, sorak-sorak gembira, itupun tdk cukup utk melampiaskan kegembiraan yg ada dihati.

Pkl. 09.00 kami harus rela meninggalkan tempat terindah itu, karna yaa memang tdk mungkin utk berlama-lama disana. Ohh no!! terlihat sekali jalur pendakian yg tadi kita lewati begitu panjang, jauh, berpasir pula?? Ternyata turun gunung lbh harus berhati-hati, karna licin pasir dan jurang dikanan-kiri membuat jantung berdebar. Tapi pemandangan sangat, woowww!!!! Dibawah terllihat jelas Danau Segara Anak dgn Gunung Baru Jari-nya yg sesekali menyembulkan asap, its amazing. Awan kinton yg menghampiri, semilir angin membuat ingin sekali tergeletak diatas pasir.

Pkl. 13.00 tiba kembali di basecamp Puncak Plawangan Sembalun. Makan siang dan lanjut packing utk segera turun menuju Danau Segara Anak.

Pkl. 16.15 perjalanan meninggalkan Puncak Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak, ternyata jalur turun yg begitu terjal, batu-batu tersusun rapi dan disebelah kiri jurang tentunya. Hmm, jempol kaki kram rasanya, harus ekstra hati-hati biar ga terguling, pundak terasa berat menahan beban. Tapi semua adalah tantangan utk mendapatkan sesuatu yg indah. Ternyata kita terperangkap kegelapan, terpaksa harus istirahat sejenak utk mengisi tenaga (makan). Tapi kog rasanya jauh bgt yaa?? aku dan teman-teman yg lain mengeluh, karna fisik sudah benar-benar terkuras dan perjalanan masih panjang tak berujung, menyebrangi beberapa jembatan kayu dikegelapan membuat nyali menjadi ciut, hehe.

Pkl. 21.00 akhirnya tiba pula di Danau Segara Anak, sudah ada didirikan tenda disana oleh amri, hady, dan mas anto. Senang rasanya bertemu kehidupan. Tampak disekeliling banyak tenda berjejer, tapi yg ga mengenakan tenda disekeliling kita adalah turis-turis, jadi kita gaboleh berisik takut mengganggu istirahat mereka. Padahal ini bumi kita, tp knp mereka yg diprioritaskan yaa??

Istirahaaatttt, tubuh lelah diforsir seharian tracking.. setelah makan malah, kita pun tertidur pulas, saling menghangatkan didalam tenda kebersamaan
  • 17 Mei 2011
Bangun pagiii, waktunya leyeh-leyeh, mancing-mancing, senang-senang di Danau seharian :D
  • 18 Mei 2011
Tadinya rencana ini sbg malam terakhir di Danau, tp kita semua betah disini seakan lupa oleh kehidupan asal :D

Foto-foto, dan semuanya mandai di kolam air panas yg berjarak sekitar 5menit dari Danau, ahh nikmatnya bisa berendam. Disamping kolam ada air terjun yg mengalir deras dari Danau, suara gemericik air yg menjadi nyanyian alam mengiringi keindahan saat itu. Dan tentu saja, menu kita hari ini adalah IKAN!! Woww, banyak bgt ikan hasil tangkapan Andri, padahal umpannya pake cacing doank loh, hihihi. Si Andre yg pake alat pancing malah ga dapet-dapet, yg cowo pada sibuk mancing, yg cewe sibuk masak, sii amri malah asik tidur di hammock antara 2pohon yg menghadap ke Danau. Beuhhh, nikmatnya dunia :D. Dan pendakian ini sungguh aneh, porter kita malah asik-asikan sedangkan kita tamunya malah sibuk masak, hehehe tapi ga apa-apa sih porternya jg asik, malah si Mas Anto udah berani nyuruh-nyuruh Ambar!! Errrr..

Ada juga orang stress (kata mas anto) namanya Charlie (kita yg ngasih nama), orang aneh yg hidupnya memang digunung dan juga tergila-gila bgt sama Ambar, hahahha!! Smp risih sii Ambar digodain dia terus :D
  • 19 Mei 2011
Masih di Danau, dgn sejuta pesonanya yg membuat kita enggan beranjak pergi meninggalkannya. Dan angenda kita hari ini adalah mengunjungi Goa susu yg berjarak 1km dari Danau, jalurnya landai kog masuk hutan tapinya. Awalnya penasaran sama itu goa, dan ternyata goa itu airnya berwarna putih layaknya susu, kami pun masuk kedalam (kecuali ika), spa didalam menghangatkan tubuh. Lagi-lagi, woww!! disekililing goa itu nampak tebing-tebing curam yg mengelilingi, membuat suasana semakin syahdu, hehe.

Masak-masak lagi?? tanpa disadari bahan logistik pun habis, akhirnya aku minta beras kesalah satu porter, ternyata mereka baik-baik lho. Malahan kita dikasih banyak macam logistik, jadilah kita pesta-pesta, hehe. Tapi yg merusak suasana adalah keadaan sekitar yg kotor, sampah-sampah bekas pendaki yg berserakan membuat suasana jadi ga enak. Ika dan Ambar akhirnya bergotong-royong membersihkan sampah-sampah di sekitar, ehh Ika malah mungutin beberapa bahan makanan yg masih layak pakai utk santapan kita!! hadeuuuh.
Disana saya pun bertemu dgn teman yg dari Dompu, namanya Bang Fauzi (dan lagi-lagi dunia memang sempit kawan), senang rasanya bertemu dan dapet syal sbg hadiah kenang-kenangan pula :D

Akhirnya diputuskan bahwa hari ini adalah malam terakhir kita di alam yg maha indah ini, selesai makan malam pake sop ikan, ikan bakar, dan dessert bubur kacang ijo & ketan item (haha, kenyang dah). Packing-packing dan tidur
  • 20 Mei 2011
Pkl. 05.00 Banguuuunnn!!! Selesai packing, siap utk melangkahkan kaki menuju Puncak Plawangan Senaru, yg menjadi jalur utk turun. Tapi ohh tapi, kita mau turun gunung tapi jalurnya malah nanjak, huuft.

Batu-batu cadas, dengkul ketemu jidat, bahkan rock climbing utk melintasi rintangan itu semua, dan tentu saja panas menerpa.

Pkl 11.00 tiba dipuncak Plawangan Senaru dgn energi yg sudah habis, istirahat sejenak makan siang dan lagi-lagi ika mungut adonan pancake, hehe (mayan buat cuci mulut :D). Indahnya makan siang diatas awan, dgn latar belakang (masih) danau segara anak. Walaupun cuma bersantap mie goreng dan nasi tapi serasa nikmatnyooo. Selesai!! Perjalanan masih panjang kawan, melewati Cemara Limo "yg katanya" mistis. Emang brasa bgt sih hawa dunia lainnya, ditambah pas dipos kita ketemu rombongan porter yg lagi nyari turis cina yg ilang sejak 3bln yg lalu. Keluarga di cina "menerawang" katanya tuh org masih hidup, tp dibawa sama perempuan, tp ga tau perempuan itu manusia atau "bukan". hiiii, tadinya saya mau buang air kecil jadi ditahan smp bawah cemara lima :(

Lanjut perjalanan turun yg landai dgn menyusuri hutan tibalah di pos 3, semakin kebawah 1,5km tiba di pos 2 (motong santas) lanjut kepos ekstra sekitar 1,5km.
Si mas Anto awalnya maksa bgt kalo kita harus ngecamp disini karna ga mau keburu malam, tp kita paksa kalo kita bisa sampe bawah sebelum gelap

Pkl 18.30 tiba dipos 1, yg hawanya lebih-lebih membuat bulu kuduk merinding, tp kita break 5menit utk sekedar minum, dan lanjut semakin masuk kehutan menuju pos Jebak Gawah

Pkl. 19.30 Alhamdulillah samapi di pos Jebak Gawah dgn selamat tanpa kurang suatu apapun, dan disana ada 1 warung utk mengisi perut (lagi-lag makan mie), itu satu-satunya warung yg ada ditempatin sepasang org tua, diperbatasan hutan dan kebun, bisa dibayangin betapa.........!!!!

Setelah istirahat sebentar, masih ada 1,5km lagi menuju desa Senaru (pos pendakian). Udah lumayan nyaman karna disekeliling cuma kebun dan terlihat beberapa cahay lampu penduduk (tetep aja merinding)

Pkl. 21.00 tiba di basecamp pendakian, akhirnyaaa ketemu kehidupan nyata juga!! Istirahat, bongkar carrier, mandi, dan tiduurrrr. ettsss, gag lupa kita serbu colokan utk ngecas HP, hehe
  • 21 Mei 2011
Pkl. 05.00 Banguunnn!! Ga enak uda numpang plus berantakan pula, jadilah kitabangun pagi-pagi karna pasti banyak pendaki yg baru dtg!! setelah beres semuanya, say goodbye sama mas anto akhirnya kita perlahan meninggalkan Desa Senaru, dan mulai menjauhi Sang Dewi Anjani, hiiks hiiiks.

Naik engkel carteran lagi menuju Bangsal utk nyebrang ke Gili Trawangan. Ahh, uda muka gosong diGunung lanjut berjemur dipantai, mantabh dah pokoknya :D

Dan lagi-lagi di Gili Trawangan saya bertemu teman, kali ini namanya Anggi, kebetulan dia lagi dinas kerja diLombok, jadilah saya balik ke Bangsal dan numpang bermalam di kostan Anggi, karna besoknya harus segera pulang kembali menuju Jakarta.

catatan ini ditulis oleh Ayu N. Sudarwo