Website Get Lost in Indonesia

Berbagi foto perjalanan kamu waktu nyasar di Indonesia bersama Losteners lainnya melalui website Get Lost in Indonesia

Mau #GLiIShirt? Klik di sini!

Tetap tampil keren selama nyasar di Indonesia bersama #GLiIShirt. Ayo dapatkan segera, Losteners!

Bali yang Selalu Membuat Kita Kembali

Bali adalah destinasi favorit di Indonesia yang tiada henti-hentinya dikunjungi setiap tahun oleh wisatawan. Apa saja atraksinya yang membuat kita selalu kembali ke sana?

Galeri Curug Cilember

Berada di Ibukota tidak boleh menyurutkan niat untuk 'nyasar' keliling Indonesia. Mulai saja dari destinasi yang dekat seperti Curug Cilember.

Jogjakarta : Keramahan dan Budaya yang Membuat Rindu

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Inilah kerinduan pada Yogyakarta yang tersurat dalam sebuah lagu. Mungkinkah harus selalu kembali ke sana setiap waktu?

Tampilkan postingan dengan label Sulawesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Sinjai, Negeri Sentosa Tak Tersorot Kamera

Salah satu pemandangan di Pulau Sembilan, Sinjai (sumber: dok. pribadi)

Sebelum masuk Sinjai, saya ditantang taruhan oleh Mail, supir rental yang menemani saya dari Makassar. “Abang boleh cari jalan jelek di Sinjai, bahkan di kampung-kampung sekali pun. Atau coba cari pengendara motor yang keluar rumah tanpa helm, walau cuma ke warung terdekat. Kalau Abang ketemu, boleh potong honor saya setengah” tantangnya.

Awalnya saya anggap itu angin lalu saja, namun Mail semangat sekali berpromosi. Di sepanjang perjalanan dia bercerita perkembangan Sinjai di bawah kepemimpinan Rudiyanto Asapa, Bupati dua periode yang saat ini juga maju sebagai calon gubernur Sulawesi Selatan.

Masuk Sinjai menjelang maghrib, saya menginap di Hotel Sahid Sinjai, sebelah kediaman resmi Bupati.  Target pertama saya adalah menikmati satu-satunya kehidupan malam di Sinjai. Kehidupan malam yang sangat sehat. Sebuah perputaran ekonomi yang mensejahterakan nelayan maupun warga secara keseluruhan, yaitu Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sinjai.

Suasana TPI Sinjai di pagi hari (sumber: dok. pribadi)

Pusat pelelangan ikan Sinjai mulai ramai sekitar pukul 19.30. Ratusan kapal penangkap ikan parkir dan berbaris rapi di pinggir pelelangan. Parkir dengan retribusi resmi yang menguntungkan daerah.  Nelayannya bukan hanya dari Sinjai, nelayan dari Bantaeng, Bulukumba, bahkan dari Makassar lebih suka parkir dan menurunkan ikan di pusat pelelangan ikan ini. Sebab manajemennya transparan dan rapi. Taka ada tengkulak yang memonopoli harga.

Ikan diturunkan dan langsung disambut oleh para pedagang. Masyarakat lalu-lalang bertransaksi  baik membeli ikan partai besar maupun eceran untuk kebutuhan  sehari-hari. Ini pasar yang hampir sempurna, tidak ada cukong atau tengkulak yang bisa mengintervensi harga ikan. Nelayan, penjual, dan pembeli sama-sama diuntungkan. Jika ikan tidak habis, dinaikkan lagi ke peti pendingin yang ada di kapal untuk dijual lagi pada malam berikutnya.

Dengan uang lima puluh ribu, anda bukan hanya dapat 3-4 ekor ikan, tapi seperti meraup tauge. Bagi yang ingin segera menikmati ikan segar, di pintu masuk pelelangan terdapat banyak warung yang menyediakan pembakaran ikan. Inilah satu-satunya kehidupan malam di Sinjai.

Pulang dari pelelangan saya mampir di sebuah toko serba ada untuk membeli perlengkapan mandi dan sikat gigi. Jangan harap anda akan menemukan waralaba semacam Alfamart atau Indomaret di tempat ini. Bupati Sinjai, hanya mengijinkan waralaba masuk ke daerahnya jika bersedia menampung produk industry rumahan warga dengan kuota tertentu. Satu hal yang sepertinya berat dipenuhi oleh perusahaan waralaba. Namun bagi sang kepala daerah, itu bentuk perlindungan terhadap sektor ekonomi kerakyatan agar tidak digilas pasar-pasar modern.

Keesokan pagi saya bersiap-siap berkeliling ke pelosok Sinjai. melihat langsung hasil kepemimpinan Rudiyanto Asapa yang disanjung-sanjung warga Sinjai tersebut.

Saya mulai dengan menikmati pemukiman di pusat kota. Jalan-jalan yang mulus, rapi, serta pohon rindang terbentang di sepanjang jalan. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke Sinjai Utara. Lagi-lagi Mail mengingatkan saya soal tantangannya. “Nanti coba cari jalan jelek ya bang,” tantangnya sembari senyum-senyum.

Saya tidak tertarik mencari jalan jelek tetapi sibuk memperhatikan motor-motor yang berseliweran. Penampilan motor-motor dan pengendaranya rata-rata sama, konservatif.  Hampir tidak ada modifikasi. Motor harus dengan dua spion pabrikan, tanpa knalpot yang bikin berisik, serta pengedara yang lengkap dengan helm standar SNI. Konon tak ada kawasan khusus tertib lalu lintas di sini. Seluruh jalan adalah kawasan tertib lalu lintas. Sebab, polisi bisa melakukan tilang di jalan-jalan kampung sekalipun. Nama Kasatlantas Sinjai, H. Eddy, adalah nama terpopuler kedua setelah sang Bupati.

Saya berhenti di Bukit Gojeng. Ini awalnya adalah tempat makam purbakala. Namun fosil-fosilnya sudah dipindahkan ke dalam museum. Lokasi situs purbakala ini sendiri diubah menjadi taman kota yang sangat asri dan indah. Sekelas dengan resort-resort super mahal di pulau jawa. Ini merupakan ruang publik tempat muda-mudi menghabiskan waktu, terutama di akhir pekan. Dan yang bikin saya kaget, petugas penjaga taman ini memberitahu saya, password free wifi yang bisa dinikmati di Bukit Gojeng. Masukkan saja password digojengku, anda bisa berselancar di internet sambil menikmati nuansa resort berkelas yang sangat asri.

Keasrian Bukit Gojeng seperti dikelola swasta, bukan pemerintah (dok.pribadi)
Kota Sinjai dilihat dari Bukit Gojeng (dok.pribadi)
Himbauan menjaga dari pemerintah daerah (dok.pribadi)

Dari Bukit gojeng, saya menuju dataran rendah. Ada deretan pulau-pulau yang menarik perhatian saya ketika  melayangkan pandangan dari puncak bukit gojeng. Menurut warga setempat, namanya Pulau Sembilan. Ada sembilan pulau yang terpisah dari daratan utama Kabupaten Sinjai.

Saya menuju pelabuhan untuk mendapatkan speed ke Pulau Sembilan. Tidak ada tujuan khusus, hanya ingin tahu kondisi pulau-pulau yang terpisah dari daratan utama. Saya menuju pulau yang paling ramai, dan juga merupakan Pusat kecamatan Pulau Sembilan, namaya Pulau Kambuno.

Perkampungan nelayan di Pulau Kambuno (dok.pribadi)

Pulau ini dihuni oleh para nelayan. Tapi jangan bayangkan sebuah kampung nelayan yang berantakan dan kumuh. Ini jauh di luar perkiraan. Yang terlihat justru sebuah pemukiman yang sangat rapi dan bersih. Rumah-rumah panggung berjejer rapi dan gang-gang yang bersih. Hampir tidak ada rumah yang jelek, begitu juga perahu-perahu mereka yang bersandar di pinggir pulau. Persis di tengah-tengah pulau terdapat sebuah ruang publik berupa lapangan yang multifungsi. Jika diptret dari udara, akan mirip seperti stadion di tengah pulau, dikelilingi oleh rumah-rumah panggung dan tebing. Ini contoh kearifan lokal yang tidak tunduk pada keserakahan.

Suasana kampung yang asri dan bersih tidak mencerminkan perkampungan nelayan yang biasa dianggap amis dan kotor (dok.pribadi)

Dulu pulau ini gelap gulita. Tidak ada listrik. Namun setelah dipimpin oleh Rudiyanto Asapa, Kambuno sudah dialiri listrik. Mekipun masih terbatas pada malam hari, namun membuat kemajuan dalam banyak hal, terutama pendidikan. Anak-anak bisa melajar dengan baik. Kehidupan pulau juga lebih semarak, dan sebagian di antara mereka justru bisa berselancar di internet. Ternyata pulau ini juga tersedia fasilitas Free Wifi yang dipancarkan dari kantor kecamatan.

Saya telusuri semua sisi pulau. Wajah-wajah cerah penghuni pulau, terutama anak-anak menghiasi setiap langkah saya menyisir pulau. Seorang anak mengajak saya melihat bangunan SMP tempat dia bersekolah. Tempatnya ada di puncak tertinggi pulau kambuno. Katanya pemandangannya sangat indah dan tak akan bisa dilupakan. Ah, saya pikir itu hanya hiperbola saja.

Saya susuri jalan  setapak menanjak yang sudah dibeton. Di kiri kanan terdapat hamparan hutan kaktus seperti di gurun pasir. Sungguh nuansa yang sangat berbeda ketika sadar bahwa ini masih di pulau tropis. Di tengah-tengah hutan kaktus, terdapat sebuah balai nikah, di puncak tebing dan menghadap ke laut. Sejenak saya layangkan pandangan. Mulut ternganga dan takjub. Hamparan laut bening dengan warna kehijauan membentang di hadapan mata. Bisa dibayangkan betapa romantisnya jika pernikahan digelar di balai nikah ini. Besarnya tidak seberapa, tapi pemandangannya akan membuat moment pernikahan sebagai kenangan yang sangat berkesan.

Pemandangan dari balai nikah Pulau Sembilan (dok.pribadi)

Tidak jauh dari Balai Nikah itu, berdiri megah sebuah SMP negeri. Klaim anak kecil tadi ternyata bukan hiperbola. Pemandangan dari ruang guru maupun ruang belajar SMP ini setara dengan resort-resort mewah di Bali. Pantai pasir yang sempit, pohon kelapa yang tidak terlalu banyak, dan hamparan laut bening berwarna kehijauan. Saya tidak tahu apakah pemandangan ini akan membuat semangat belajar bertambah atau malah membuat ngantuk.

Namun, memang harus diakui bahwa 100 persen anak-anak di sinjai sudah menempuh pendidikan dari SD sampai SMA, dan itu gratis, baik di sekolah negeri mapun swasta. Bupati Sinjai Rudiyanto Asapa sudah menerapkan kebijakan ini sejak tahun 2003. Kalau mau jujur, mungkin dia pelopor pendidikan gratis di Indonesia. Seorang Bupati yang pernah dilaporkan warganya ke polisi sebagai penculik anak, karena membawa anak-anak yang bekerja di sawah ke sekolah meski mereka tak punya seragam.  Hanya sayang, tidak ada kamera wartawan Jakarta yang mampir di sini.

SMP dari Pulau Sembilan (dok.pribadi)

Menjelang sore saya kembali ke daratan Sinjai. Bersiap-siap kembali ke Makassar. Rasa tidak puas memenuhi dada. Sebab, selalu ada kejutan di setiap pelosok Sinjai. Dan itu inspirasi untuk membuat Indonesia lebih baik. Tapi sayang, pekerjaan terlalu banyak menumpuk di Makassar dan Jakarta. Suatu saat, saya pasti kembali menyusuri sisi lain daerah ini.

Sinjai memang bukan daerah ternama. Bahkan jarang ditulis media. Namun bagi yang hadir dan menikmati langsung akan segera paham bahwa ini seperti sebuah negeri yang diperintah raja bijak. Kebijaksanaan yang melahirkan ketenangan dan kesejahteraan bagi warganya


(Artikel ini sudah mendapat persetujuan penyebaran tulisan di situs GLII dari penulis aslinya, Sipiliang)

Kamis, 11 November 2010

Jumat, 07 Agustus 2009 Taman Wisata Wera, Kab. Donggala, Sulawesi Tengah


Taman Wisata Wera merupakan salah satu obyek wisata terkenal di Sulawesi Tengah. Pada awalnya, potensi wisata yang ada di kawasan ini adalah Air Terjun Wera dan kawasan hutan sekunder. Pada tahun 1980, kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Wisata berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 843/Kpts/Um/11/1980 tanggal 25 November 1980, dengan luas kawasan sekitar 250 hektar.

Kawasan yang berada di ketinggian antara 150 meter-800 meter di atas permukaan laut (dpl) ini memiliki topografi berlereng dan berbukit terjal dengan kemiringan antara 60%-90%. Diantara perbukitan yang terjal tersebut terdapat sebuah lembah sempit yang merupakan aliran Sungai Wera.


Keistimewaan

Para wisatawan tidak hanya dapat menikmati sejuknya udara dan menyaksikan keindahan air yang jatuh dari atas tebing dengan ketinggian sekitar 100 meter, tetapi juga dapat melakukan berbagai kegiatan wisata yang menyenangkan seperti : mandi atau berenang di Sungai Wera yang airnya sejuk; mendaki gunung ke arah puncak bukit di sekitar air terjun sambil menikmati pemandangan yang indah; berkemah di daerah datar di bagian utara dan di puncak bukit dekat Dusun Ngatapapu; dan photo hunting keindahan alam di sekitar air terjun dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Para wisatawan juga dapat menyaksikan keragaman flora dan fauna yang hidup di kawasan ini. Flora yang tumbuh di kawasan ini, antara lain : kenari/ntoli (canarium aspermun), bintangur (callophylum sp.), lebanu (nauclea sp.), beringin (ficus benyamina), lei (palagulum javanicum), serta beberapa tumbuhan epifit, seperti anggrek tanah, dan pakis sarang (asplenium nidus). Adapun jenis fauna yang hidup di kawasan ini, antara lain : monyet hitam (macaca tonkeana), enggang/allo (aceros cassidix), ayam hutan (gallus gallus), burung gagak (corvus sp.), babi hutan (sus colobensis), rusa (cervus timorencis), burung nuri kepala biru (trichoglossus omatus), dan kakatua jambul kuning (cacatua sulphurea).

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam yang berbeda, tidak jauh dari taman wisata ini (sekitar 2 km) terdapat wisata alam Pemandian Air Panas Mantikole. Para wisatawan dapat menjadikan Pemandian Air Panas Mantikole ini satu paket wisata dengan Taman Wisata Wera, sehingga perjalanan wisata para wisatawan lebih bervariasi dan menyenangkan.


Lokasi

Secara administratif, Taman Wisata Wera terletak di Kecamatan Dolo, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah.


Akses

Untuk mencapai kawasan Taman Wisata Wera tidaklah sulit karena terdapat jalan aspal yang menghubungkan Kota Palu (Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah) dengan desa-desa di sekitar lokasi wisata, seperti Desa Balumpewa yang berjarak sekitar 1 km dari jalan raya. Dari Kota Palu menuju ke Desa Balumpewa yang berjarak 19 km, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum atau carteran dalam waktu sekitar 45 menit. Selanjutnya, dari Desa Balumpewa ke lokasi air terjun yang berjarak 2 km, dapat ditempuh dengan berjalan kaki.


Harga Tiket Masuk

Masih dalam proses konfirmasi


Akomodasi dan Fasilitas

Untuk mengetahui lebih banyak tentang obyek wisata alam Taman Wisata Wera, para wisatawan dapat memperoleh informasi di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam VI atau dari kantor Sub. BKSDA Sulawesi Tengah, dengan alamat : Jl. Prof. Moh. Yamin No. 19 Palu, Telepon 21106 atau 22287.


sumber: http://1indonesia.blogspot.com/2009/08/taman-wisata-wera-kab-donggala-sulawesi.html

Kamis, 07 Oktober 2010

Tana Toraja, Sulsel; Wisata Budaya Penuh Pesona

Perkampungan adat di Tanah Toraja

Tana Toraja merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar itu sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama Tongkonan.

Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat, seperti strata emas, perunggu, besi, dan kuningan.

Kuburan di bukit batu Londa Tanah Toraja


Saking melekatnya imej Tana Toraja dengan bangunan rumah adat ini, sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, maka rumah adat pun dibangun di negeri matahari terbit itu.

Bangunannya dikerjakan oleh orang Toraja sendiri dan diboyong pengusaha pariwisata ke negeri sakura. Sekarang di Jepang sudah ada dua Tongkonan yang sangat mirip dengan Tongkonan asli. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuknya yang unik. Perbedaannya dengan yang ada di Tana Toraja hanya terletak pada atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia).

Rumah Adat Tanah Toraja


Masih banyak lagi daya tarik Tana Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah tersohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0-7 tahun.

Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, pohon tempat “menyimpan” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.

Di atas pohon tarra - yang buahnya mirip buah sukun - dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.

Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi. Mayat bayi diletakkan ke dalam, lalu ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut.

Tarian Adat orang Tanah Toraja


Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini, disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.

Selain itu, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.

Sementara itu, untuk sampai di Tana Toraja yang mengagumkan ini ada jalur penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. Penerbangan ini hanya sekali dalam seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang. Namun, waktu yang dibutuhkan cukup singkat, hanya 45 menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dan jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan membutuhkan waktu tujuh jam.

Even yang menarik di kawasan wisata ini adalah upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka) yang merupakan kalender tetap tiap tahun.

Selain even tersebut, para pengunjung bisa melihat dari dekat objek wisata budaya menarik lainnya, seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk kontainer ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao. (rn)

sumber : www.resep.web.id
foto :
www.archipelago-travel.com ,tongkonanku.blogspot.com, viiphoto.ning.com,
www.inmagine.com


sumber : http://lagulamaku.blogspot.com/2009/05/tana-toraja-sulsel-wisata-budaya-penuh.html

Danau Matano, Keindahan yang Tersembunyi

Keterangan foto: Sunrise di Danau Matano (foto:Istimewa)

Mungkin sebahagian orang di Indonesia kurang mengenal atau mendengar nama Danau Matano, yang merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan terdalam ke-8 di dunia (600mtr depth), bahkan di Sulawesi Selatan, danau Tempe (Wajo) dan danau Towuti (Malili) lebih sering diperbincangkan. Namun, bagi masyarakat Sorowako umumnya, dan PT International Nickel Indonesia khususnya, perusahaan penambangan nikel terbesar dunia yang area pertambangannya meliputi Sorowako- danau Matano merupakan sumber energi dan penghidupan yang sangat vital, sehingga ketergantungan terhadap danau Matano ini sangat tinggi. Danau Matano sendiri terletak di Sorowako, kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu TImur, Sulawesi Selatan. Letaknya berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Dengan panorama indah yang dikelilingi oleh pegunungan Verbec, danau Matano ini sangat layak dijadikan tujuan wisata. Pasir pantainya yang putih, dengan ombak yang ramah namun masih memungkinkan untuk berolahraga air semisal renang, layar, ski air, kano dan menyelam. Kecerahan air yang mencapai 23meter sangat menggoda untuk olahraga snorkling dan diving, apalagi ikan-ikan yang hidup di danau ini merupakan ikan yang sangat khas dan tidak dijumpai di daerah lain. Beberapa event lokal dan nasional pernah diselenggarakan disana, sebutlah lomba perahu dayung tahunan, Sunday market, year end party PT INCO, sampai kompetisi renang nasional PRSI menyeberangi danau Matano. Di daerah Sorowako ini, ada tiga pantai yang kerap dikunjungi masyarakat dan karyawan PT INCO yakni pantai Old Camp, pantai Idee (Pontada) dan pantai Kupu-kupu (Salonsa). Di sisi danau lainnya, desa Nuha, Tapulemo dan desa Matano, juga memanfaatkan danau matano sebagaimana masyarakat Sorowako.

Pemandangan danau Matano yang memukau (foto : Muh.Ruslailang Noertika)

Danau Matano, yang berarti mata air dalam bahasa Dongi, bahasa asli Sorowako, terbentuk dari ribuan mata air yang muncul akibat gerakan tektonik; lipatan dan patahan kerak bumi yang terjadi di sekitar daerah litosfir yang membutuhkan waktu lama untuk terisi oleh air dan membentuk danau sekitar 4juta tahun yang lalu. Di area Sorowako, juga terbentuk dua danau lainnya, danau Mahalona (kedalaman 60mtr) dan danau Towuti (kedalaman 200mtr). Air yang mengalir dari Danau Matano dialirkan melalui sungai Larona ke Danau Mahalona kemudian ke Danau Towuti dan selanjutnya menuju muara melalui sungai Malili dan berakhir di Laut Bone. Sungai inilah yang menjadi penggerak dua PLTA milik PT Inco Tbk, yaitu PLTA Larona dan PLTA Balambano. Bahkan tidak lama lagi Inco juga akan membangun PLTA yang ketiga yang sumber energinya berasal dari Danau Matano, yaitu PLTA Karebbe.

Danau Matano tak hanya terkenal karena panorama alamnya yang mempesona. Di sana juga ternyata menyimpan banyak keunikan. Dari letak dan komposisi kimianya yang khas hingga kekayaan fauna endemik yang hanya dapat ditemukan pada danau tersebut. Dan yang paling membanggakan pula, dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan tidak terjadi perubahan signifikan terhadap ekosistem danau sejak 1930-an hingga saat ini. Bahkan karena kekhasannya, beberapa ilmuan menilai danau di Sorowako, terutama Danau Matano patut diusulkan menjadi world heritage. Bagi PT Inco, hasil kajian dari para ahli lingkungan tentu sangat menggembirakan. Fakta ini sekaligus membantah tudingan banyak pihak bahwa danau yang digunakan PT Inco sebagai PLTA telah tercemar limbah PT Inco.

Posisi dasar danau sangat khas, dimana letaknya lebih rendah daripada permukaan laut. Suatu gejala alam yang langka di dunia, hanya dilampaui oleh laut Mati, di lembah Jordan Mesir. Danau Matano juga bersifat isotermal, yang berarti beda suhu antara permukaan dan dasar danau kurang dari dua derajat celsius. Kecerahan air 23 m, padahal banyak danau lain di Indonesia hanya beberapa meter bahkan dm saja. Sifat khas lain di jumpai di dekat Desa Matano dimana beberapa mata air muncul dari dasar danau. Lalu pada kedalaman 200-300 m dapat dijumpai kolam ikan dengan indikasi aliran gravitasi di dasar danau. Jenis flora dan fauna yang hidup di Danau Matano bersifat endemic yang masih terjaga dengan baik. Secara awam, flora dan fauna endemik adalah mahluk hidup yang hanya ditemui di suatu tempat dan tidak bisa ditemukan di tempat yan lain.

Ditulis oleh : Muh.Ruslailang Noertika

Diolah dari berbagai sumber:
1. Catatan pribadi, selama bekerja di PT INCO (2004-2006)
2. Internasional Symposium the Ecology and Limnology of The Malili Lakes – LIPI, 20-22 Maret 2006 di Hotel Salak, Bogor-Jawa Barat. Atas izin pihak Govrel PT INCO
3. Wikipedia 
4. WeBlog: http://jalansutera.com, Weblog pribadi milik Pujiono (melalui konfirmasi)

sumber : http://mytravelblogging.com/sulawesiselatan/2007/11/04/danau-matano-keindahan-yang-tersembunyi/

Rabu, 29 September 2010

TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG: KINGDOM OF THE BUTTERFLY



Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung adalah satu taman nasional yang dimiliki indonesia berlokasi di kabupaten Maros dan kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Alhamdulillah dalam sebuah perjalanan" mengintip keindahan Negeri Angin Mammiri", langkah kakiku pun sampai di Taman Nasional dengan penangkaran kupu-kupu terbesar di Indonesia ini.


Akses mencapai kawasan Taman Nasional ini sangat mudah. Kawasan ini berjarak kira-kira 10 KM dari Bandara Internasional Hasanuddin Makasar atau berjarak sekitar 15 KM dari Kota Makasar dengan perjalanan kira-kira 1,5 jam.

Di Bantimurung ini awalnya terdapat sekitar 300 spesies kupu-atau sekitar 10,8% dari spesies kupu-kupu yang dimiliki Indonesia tapi konon katanya kini yang tersisa tinggal 108 spesies.Kupu-kupu Bantimurung sejak lama sudah dikenal luas wisatawan. Biolog Naturalis Inggris Alfred Russel Wallacea (1823-1913), menjuluki Bantimurung "Kingdom of The Butterfly". Saat ini masyarakat sekitar Bantimurung banyak memburu binatang dengan warnanya yang unik ini untuk dijadikan souvenir dan dijual dengan harga yang menggiurkan. Inilah salah satu ancaman bagi kelestarian fauna ini.

Disamping penangkaran kupu-kupu di Taman Nasional ini juga terdapat air terjun Bantimurung dan beberapa goa, diantaranya adalah gowa mimpi dengan panjang sekitar 1,5 km. Bantimurung sendiri berasal dari dua kata bahasa bugis halus yaitu Benti berarti air dan merrung yang berarti bergemuruh, karena dialek daerah setempat maka benti merrung berubah nama menjadi bantimurung. Namun ada juga sebagian orang yang yang mengartikan bantimurung dengan banting murung, jadi kita harus buang murung di area ini.

Air Terjun di Bantimurung ini menyajikan keindahan yang berbeda dibandingkan dengan air terjun yang ada didaerah Bogor dan sekitarnya. Butiran air terasa halus seperti sentuhan kapas, pun bisa menikmati seluncuran air yang bermuara di sebuah kolam alam yang cukup indah.

Di dalam kawasan ini pun terdapat museum kupu-kupu. Yaps dimuseum ini kita bisa menikmati keindahan warna dan pesona kupu-kupu indonesia dengan berbagai bentuk dan ukuran. Koleksi dan kekayaan plasma nutfah yang luar biasa. Lagi-lagi hanya kebeseran Tuhan yang teringat melihat alam ini. Lets Mencari Ayat-Ayat Allah lewat alam dan penciptaannya.

Air Terjun Bantimurung





                          

sumber : http://ysvina.blogspot.com/2010/08/taman-nasional-bantimurung-kingdom-of.html

Senin, 26 Juli 2010

Wisata di Tanah Toraja





















Objek Wisata & Tempat Tempat menarik Di Tana Toraja.


Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan yang sangat menarik dan tidak boleh anda lewatkan.

Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :




Pallawa.

Pallawa.


Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohin banbu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 Km ke arah utara dari Rantepau.



Londa.

Londa.


Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 Km ke arah selatan dari Rantepau.




Ke’te Kesu.

Ke’te Kesu.


Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepau.




Batu Tumonga.

Batu Tumonga.


Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2 – 3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan rantepau dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sensean dengan ketinggai 1300 Meter dari permukaan laut.




Lemo.

Lemo.


Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo anda dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma Nene. Terletak di Kabupaten Tan Toraja.





Sumber: http://www.indotravelers.com/sulawesi-selatan/wisata-tana-toraja.html

Rabu, 21 Juli 2010

Menikmati Pesona Bintang Laut di Pulau Pelin





Pulau PelingJika Anda berkunjung ke Sulawesi Tengah, jangan lupa berkunjung ke Pulau Peling. Di Pulau Peling, Anda akan melihat keindahan pantai yang memukau. Kunjungan Anda ke Pulau Peling pasti akan menjadi hal yang tidak akan pernah terlupakan dalam benak Anda.Untuk menuju ke Pulau Peling, Anda dapat berangkat dari daerah Luwuk, Sulawesi Tengah. Dari daerah Luwuk, kita dapat pergi pelabuhan kecil untuk menyeberang ke Pulau Peling. Transportasi yang digunakan adalah sebuah kapal yang berukuran sedang. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Pulau Peling juga tergolong singkat, yaitu kurang lebih hanya empat jam saja.

Setelah mencapai Pulau Peling, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Pantai Sabang. Untuk informasi Anda, Pantai Sabang adalah salah satu pantai terindah di Sulawesi.

Pulau PelingDi pantai tersebut, Anda bukan hanya dapat menikmati keindahannya dan menikmati semilir angin sepoi-sepoi pantai, melainkan Anda dapat melihat langsung kumpulan bintang laut dengan warna yang beraneka ragam.

Bintang laut yang beraneka ragam itu bukan hanya dapat Anda lihat seperti yang biasa Anda lihat di akuarium air laut, namun Anda juga dapat menyentuh permukaannya. Bintang laut yang ada di tepi pantai itupun beraneka ragam, seperti ada yang berwarna merah dan juga cokelat kemerahan. Wow, luar biasa sekali bukan?

Pulau PelingPesona bintang laut di pantai Pantai Sabang memang memberikan kesan tersendiri bagi Pulau Peling. Pulau Peling di Sulawesi Tengah memang menyimpan sejuta keindahan. Jika Anda ingin melihat pantai dengan air laut yang jernih, menikmati semilir angin pantai yang sejuk, dan melihat bintang laut yang mempesona dari jarak dekat, berkunjunglah ke Pantai Sabang di Pulau Peling.

Keindahan Pantai Sabang dan kecantikan bintang laut di tepi pantai dapat menjernihkan pikiran Anda yang lelah dan memberikan kenangan yang tak terlupakan.

Sumber: http://liburan.info/content/view/1192/43/lang,indonesian/