Kamis, 05 Agustus 2010

SABANG

Sumber daya hayati pesisir dan lautan seperti populasi ikan hias, terumbu karang ,padang lamun, hutan mangrove dan berbagai bentang alam pesisir (coastal landscape) unik lainnya, membentuk suatu pemandangan alamiah yang begitu menakjubkan. Kondisi tersebut menjadi daya tarik yang sangat besar bagi wisatawan, sehingga pantas bila dijadikan objeck wisata bahari.

Potensi utama untuk menunjang kegiatan pariwisata di wilayah pesisir dan laut adalah kawasan terumbu karang; pantai berpasir putih atau bersih; dan lokasi-lokasi perairan pantai yang baik untuk berselancar (surfing), ski air, serta kegiatan rekreasi air lainnya. Luas kawasan terumbu karang yang terdapat di Indonesia mencapai 85.000 km2. umumnya perairan kawasan timur Indonesia memiliki terumbu karang yang lebih beraneka ragam. 

Diperkirakan bahwa ekosisitem terumbu karang memiliki keragaman spesies sebanyak 335-362 spesies karang scleractinian dan 263 spesies ikan hias laut. Hal ini menciptakan keindahan panorama alam bawah laut yang luar biasa bagi para penyelam, para wisatawan yang melakukan snorkeling, atau melihatnya dari atas kapal yang dasarnya berkaca (glass bottom boat). Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan bila terumbu karang dapat dijadikan modal utama dalam pengembangan wisata bahari di Indonesia.

KEINDAHAN PANTAI SABANG 

Perjalanan dari Balohan ke kota Sabang melalui jalan yang agak berliku dan penuh dengan tanjakan dan turunan. Di daerah Mata Ie, tanjakan sudah lebar dan di Cot Ba’u ada turunan tajam yang sudah dialihkan jadi sudah agak landai. Dibeberapa tempat masih cukup curam. Kanan kiri jalan relatif sepi dari rumah penduduk, karena kiri jalan relatif curam sedangkan kanan jalan sebagian adalah tebing. Jalan ini rupanya ada tepat di daerah fault/patahan . Memasuki kota Sabang, yang berada di bagian Utara Pulau Weh, keramaian langsung terasa. 

Ingat Sabang, ingat Merauke, setidaknya itu adalah rangkaian kata dalam lagu Dari Sabang sampai Merauke , hasil karya R. Surarjo, yang sudah huapal banget sejak SD. Rangkaian kata ini juga masih marak dalam pidato, pengantar laporan, juga iklan-iklan. 

Pulau Weh, pulau serba ada. Mau gunung api? Ada yang masih ngebul, bisa ditemui di daerah Jaboi. Mau Danau, ada juga, namanya Danau Aneuk Laot, yang merupakan salah satu sumber utama air tawar kota Sabang. Mau keindahan pantai ? juga banyak. 
Kunjungan ke pantai bisa dimulai dari kota Sabang ke arah Timur kemudian sisir ke Selatan. Ada Pantai Kasih (sayang sekali terkena dampak yang cukup parah dari Tsunami Desember 2004), ada Pantai Tapak Gajah dan Pantai Sumur Tiga dengan pasir putih nya. 3 kilometer ke Selatan ada Pantai Ujung Kareung, tempat mancing yang ideal, ikan buanyak dalam jarak 25 meter dari pantai dan dengan kejernihan airnya… Jauh ke Selatan lagi, ada pantai Anoi Itam, pasir disini telihat berwarna hitam. Sebelum sampai Anoi Itam, ada benteng Buvark di Ujong Meutigo. Benteng ini di pinggir pantai dan cukup tinggi dari permukaan laut, menghadap ke Timur. Masih ada meriam yang tertinggal. Pemandangan dari ketinggian ini sangat indah. Air laut yang jernih menyibak keindahan bebatuan didasarnya… 

Konon kisahnya dahulu kala, Pulau Weh itu sebenarnya bersatu dengan Pulau Sumatera. Namun dalam sebuah gempa bumi dahsyat, keduanya terpisah seperti kondisi sekarang yang berjarak 18 mil! Akibat gempa itu lagi, Pulau Weh menjadi tandus dan gersang. 
Lalu ada seorang putri jelita di Pulau Weh yang meminta pada Tuhan agar Pulau Weh tidak gersang. Ia lalu membuang seluruh perhiasannya ke laut sebagai "kaulnya". Kemudian hujan pun turun, disusul gempa bumi. Akhirnya terbentuklah sebuah danau yang kemudian diberi nama Aneuk Laot di tengah-tengah pulau itu. Putri itu sendiri kemudian terjun ke laut. 

Tak usah dipermasalahkan benar-tidaknya, sebab namanya saja legenda. Tetapi yang pasti Danau Aneuk Laot seluas 30 hektar itu masih ada hingga sekarang. Dengan kapasitas air 7 juta ton, danau itu menjadi sumber air minum utama penduduk Sabang. Sementara sumber cadangan air datang dari empat danau lagi, Danau Paya Seunara, Paya Karieng, Paya Peuteupen dan Paya Seumesi. 

Halnya laut lokasi terjun dan tempat buangan perhiasan dan Sang Putri di sekitar Pantai Iboih dekat Pulau Rubiah, menjadi taman laut yang indah dengan hiasan utama terumbu karang dan ikan warna-warni. Keindahan itu jadi alasan utama kedatangan putri-putri jelita modern dari Jepang, Eropa dan Amerika. Sajian tubuh setengah telanjang mereka di tepian pantai, lantas menjadi alasan kedua bagi kedatangan turis domestik.

Begitulah, Sabang menjadi sebuah tujuan wisata dengan beragam keindahan. Banyak orang lantas memperbandingkannya dengan Bali, Bunaken dan Pantai Senggigi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pengandaian itu tidak terlalu berlebihan. Sabang memiliki sejumlah objek wisata mengagumkan dan layak dinyatakan: Sabang, the new terminology of paradise.
Objek wisata itu berjejer rata mulai dari Tugu Kilometer Nol (KM-0) Indonesia hingga ke kawasan Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pantai Kasih, Pantai Pasir Putih, Pantai Sumur Tiga, Pantai Anontam, Pantai Tapak Gajah atau Pantai Lhung Angen. Bisa juga mendatangi Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Rondo dan Pulau Seulako. Menyaksikan alam bawah laut menjadi kenangan tersendiri. Nuansa sedikit berbeda terdapat di gua, Air Terjun Pria Laot dan Benteng Jepang. Tinggal pilih. 

*) Tugu KILOMETER NOL
Kendati punya banyak objek wisata, umumnya wisatawan yang datang ke Sabang, terutama wisatawan domestik, pertama-tama akan menyempatkan diri mendatangi Tugu Kilometer Nol (KM-0) Indonesia. Pulau Weh, merupakan pulau paling barat daratan Indonesia. Tugu ini menjadi batas penghitungan setiap jengkal wilayah Indonesia hingga ke Merauke di Papua. Dengan nilai penting semacam ini, pengunjung merasa perlu datang. Apalagi Sabang memberikan sertifikat bagi pengunjung yang sampai kemari.

Tugu KM-0 itu sendiri berada dalam areal Hutan Wisata Sabang di Ujong Ba'u, Kecamatan Sukakarya. Bentuknya berupa sebuah bangunan bundar warna putih berlantai dua. Tinggi sekitar 15 meter dengan beberapa undakan. Di lantai pertama, terdapat sebuah pilar bulat yang sayangnya sudah rusak dijahili orang-orang tidak bertanggung jawab, sehingga sulit diketahui bentuk awalnya. Di dinding bangunan menempel prasasti peresmian tugu yang ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno di Banda Aceh, ibukota NAD, pada 9 September 1997.
Sementara di lantai dua atas yang terbuka, terdapat dua prasasti. Prasasti pertama ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP Teknologi BJ. Habibie, pada 24 September 1997. Isinya menjelaskan bahwa penetapan posisi geografis KM-0 Indonesia itu diukur para pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Sementara prasasti kedua menjelaskan dalam angka-angka, posisi geografis itu, yakni 050 54’ 21. 42” Lintang Utara dan 950 13’ 00.50” Bujur Timur, dengan ketinggian 43,6 meter.Di seberang jalan tugu tersebut, terdapat batu penanda jarak berwarna kuning seperti biasa terlihat di pinggir jalan. Bedanya di situ tertulis angka nol. Hal yang tak lazim dijumpai pada batu penanda jarak lainnya.

Sebagai sebuah objek wisata, tugu KM-0 sudah memadai. Pepohonan tertata rapi, pelindung dari sengat matahari saat duduk di halte sambil memandang ke arah Lautan Hindia. Karena Weh merupakan daratan paling ujung, maka tidak akan ada pulau penghalang pandangan hingga ke Kepulauan Nicobar di India. Tentu saja mata telanjang tidak akan bisa melihat Kepulauan Nicobar, sebab jaraknya ratusan mil dari Sabang. 

Menjelang malam, cukup menyenangkan menyaksikan matahari terbenam. Bola matahari berwarna jingga, kemudian berubah merah menyala di antara awan tipis, lantas “turun” ke laut yang juga menjadi merah. 
Sayangnya keindahan tugu KM-0 terganggu akibat sejumlah coretan, termasuk di prasasti. Sehingga pengunjung yang ingin mengabadikan kenangan di prasasti dan tugu harus puas dengan hasil foto yang jorok.

*) Pesona Iboih

Pantai Iboih merupakan pantai paling populer. Seperti halnya tugu KM-0, tidak sah mengunjungi Sabang jika tak singgah di Iboih. Walau sebenarnya keindahan pantai merupakan pemandangan dominan di Sabang, tetapi Iboih yang berada di areal sekitar 1.300 hektar di Desa Iboih, Kec. Sukakarya ini punya pesona unik. Iboih merupakan pantai pertama dijumpai setelah mengunjungi tugu. Jarak antara keduanya enam kilometer.

Di Iboih yang teduh dan sejuk, air laut menghijau hingga ke tepian pantai. Sembari menunggu makan siang dengan menu sea food di beberapa warung sederhana yang berjejer rapi di tepian pantai, pengunjung bisa memuaskan diri dengan mandi air laut. Sewa peralatan snorkling hanya Rp 10 ribu sekali pakai, dengan jaminan kartu identitas. 

Jangan khawatir jika tidak bisa berenang. Ada tali tambang di dalam laut tempat bergelayut hingga agak ke tengah. Jika mampu, tidak masalah berenang sekitar 150 meter dari Iboih ke Pulau Rubiah. Pulau itu persis di depan Iboih sehingga bisa dilihat keindahannya dari tepian pantai. 

Pulau Rubiah sendiri sebenarnya merupakan kawasan taman bawah air seluas 2.600 hektar. Pengunjung dapat menyeberang dan menginap di pulau ini. Selalu ada boat dengan biaya antar-jeput Rp 100 ribu. Kalau mau mengelilingi pulau, sewa kapal Rp 200 ribu. 
Di tengah pengelilingan, boat akan berhenti sejenak. Pemilik boat kemudian menurunkan kotak kaca, sehingga dari kotak kaca itu penumpang dapat melihat ikan warna-warni berseliweran di antara terumbu karang di kedalaman antara 5 hingga 10 meter. 
Terumbu karang merupakan primadona wisata Sabang. Sejumlah turis biasa melakukan aktifitas selam (diving). Saat ini ada tiga operator diving di Sabang, yakni Pulau Weh Diving Centre dan Rubiah Tirta Divers di Iboih, serta Lumba-lumba Diving Centre di Pantai Gapang, sekitar 10 kilometer dari Iboih.

Mereka bisa memandu ke lokasi penyelaman paling menarik dengan bayaran US$ 20 atau sekitar Rp 200 ribu jika dikalikan kurs Rp 10 ribu. Namun Jika memang belum memiliki lisensi, terpaksa membayar US$ 225 untuk biaya kursus singkat pemula atau oven water diver. 

“Kursus hingga lima hari dengan instruktur yang berlisensi dari Profesional Association of Diving Instructor (PADI). Jika dibutuhkan, kita juga bisa memberi pelatihan untuk kelas adventure diver seharga US$ 125 dan dive master dengan tarif antara 550 hingga 750 dolar Amerika Serikat yang bisa dibayar dengan rupiah dengan kurs harian,” kata Udi M Djamil (30), Manager Operasional Lumba-lumba Diving Centre yang berdiri sejak tahun 1998. 

Setiap empat penyelam biasanya didampingi seorang instruktur. Lantas dengan boat bersama-sama menuju lokasi penyelaman. Sedikitnya anggota tim memang sengaja dibatasi untuk memaksimalkan penyelaman dan pengawasan keselamatan turis. Apalagi di beberapa daerah penyelaman, arus air cukup deras. 
Udi yang juga instruktur berlisensi PADI pertama di Sabang menyatakan, ada 20 lokasi penyelaman. Antara lain Arus Balele, Seulako’s Drift, Pantee Kleu, Rubiah Sea Garden, Batee Tokong dan Pantee Aneuk Seuke Canyon dan Pantee Panneuteung.

Sejumlah penyelam mengklaim, taman-taman bawah air itu setara dengan yang terdapat di Long Island, Maldives (Maladewa) di selatan India, Nusa Penida di Bali maupun di perairan Maluku. Namun Pulau Rubiah lebih unggul sebab memiliki banyak biota laut yang di negara-negara lain telah langka atau telah punah. Di antaranya ketam kelapa (Bigus latro), kima raksasa (Tridacna gigas), ikan bulu ayam (Lion fish). Selain itu juga kaya dengan tumbuhan ganggang serta terumbu karang warna-warni.

Keindahan plus keunikan itu membuat para penyelam merasa perlu datang secara khusus. Misalnya Maret lalu, 15 turis asal Jerman khusus datang ke Sabang untuk melakukan diving dan berada di Sabang sekitar dua minggu di sekitar kantor Lumba-lumba Diving Centre di Pantai Gapang. 

Jika diambil rata-rata, bisa dikatakan terdapat lima turis yang datang setiap hari khusus untuk menyelam. Turis-turis asing itu tidak berpengaruh terhadap situasi Aceh yang memanas sejak status Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan di Aceh dan belakangan suhunya meningkat lagi karena pemerintah berencana memberlakukan operasi militer. 

Satu-satunya ancaman bagi keindahan terumbu karang itu datang dari kapal nelayan yang mengoperaskan penangkap ikan jenis pukat harimau. Sistem kerja kapal ini, menebar jala berikut pemberat besi yang akan menyapu hingga ke dasar laut. Akibatnya terumbu karang yang butuh waktu puluhan tahun untuk tumbuh, hancur sebentar saja. Dengan begitu muncul kesan nelayan tidak mempedulikan kondisi ekologis laut. Sebetulnya ubur-ubur berduri juga memakan terumbu karang, tetapi ancaman terbesar adalah dari pukat harimau ini. Jika pemerintah tidak segera ambil peduli, aset pariwisata Sabang akan hancur.
“TELUK PRIA LAOT”
POTENSI WISATA 

SEJARAH YANG MULAI TERPUBLIKASI 

Ada anekdot yang mengatakan “Ke-botak-an seseorang sangat tergantung dari cara dia berfikir, apabila botak di belakang dia berfikir tentang masa lalu (sejarah) dan apabila botak di depan dia berfikir tentang masa depan (future)”, tapi kita tidak membahas anekdot tersebut namun yang menarik adalah sejarah-sejarah atau kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu yang terkait dengan perkembangan dan keberadaan Sabang. 
Pada era tahun 1800-an negara-negara Eropa memulai melakukan ekspansi ke daerah-daerah yang masih terbelakang seperti kawasan Asia dan Afrika, negara Eropa yang sangat dominan melakukan ekspansi pada masa zaman itu adalah Inggris, Belanda, Jerman, Portugis, dan beberapa negara lain. 

Berdasarkan peta terbaru pada masa itu (akhir tahun 1870-an) Sabang adalah sebuah pulau yang terletak di posisi silang penghubung antar negara bahkan benua yang merupakan salah satu target negara-negara ekspansi untuk menguasai rute dan perdagangan dunia. Belanda adalah negara yang berhasil menguasai Sabang dengan mendirikan Kolen Station pada tahun 1881, selanjutnya melalui Firma De Lange pada tahun 1887 membangun sarana penunjang fasilitas pelabuhan, dan pada tahun 1895 Pemerintah Belanda membuka Sabang sebagai Pelabuhan Bebas untuk internasional yang dikelola oleh Sabang Mactscapij, dan sejak saat itu aktifitas lalu lintas di teluk Sabang sangat crowded dari hari ke hari. 

Memasuki tahun 1940 mulai pecah perang dunia kedua memperebutkan daerah kekuasaan sekaligus menunjukkan kekuatan militer masing-masing negara ke dunia internasional. Banyak harta benda negara yang kalah diambil alih oleh negara yang menang, kejadian ini juga terjadi di Sabang pada tahun 1940 ketika Sabang masih dikuasai oleh Belanda, kapal-kapal milik lawan perang Belanda yang masuk ke Sabang dirampas menjadi hak milik Pemerintah Belanda. Salah satu yang menjadi catatan sejarah kita pada hari ini adalah Kapal Sophie Rickmers milik kebangsaan Jerman dengan spesifikasi : 

· panjang total 134 m, 

· lebar 17,5 m, tinggi 8 m, 

· satu steam engine dengan kekuatan 2,900 HP, 

· kecepatan 12 knot 

· mempunyai crew sebanyak 42 orang 

Dirampas penguasa Belanda ketika memasuki perairan teluk Sabang namun Kapten kapal bersama crewnya tidak membiarkan Sophie Rickmers dirampas sehingga pada hari itu juga tanggal 10 Mai 1940 kapten bersama crew membuka palka Sophie Rickmer dan kapal besar tersebut dibiarkan tenggelam perlahan-lahan di Teluk Pria Laot bersama dua torpedo besarnya tanpa bisa diselamatkan penguasa Belanda. 
Berdasarkan data-data dari PT. Lumba-lumba – Gapang serta searching internet, ada beberapa informasi yang diperoleh mengenai Sophie Rickmer yaitu kapal ini dibuat dari tahun 1917 s/d 1920 oleh perusahaan The Rickmers-Werft di Bremerhaven sebuah Kota Bagian Barat Hamburg dengan material yang sangat baik, dan pertama dipakai pada tanggal 16 Juli 1920 di bawah lisensi perusahaan The Rickmers-Reederei. Adapun perusahaan The Rickmers-Reederei kabarnya sampai saat ini masih eksis di Jerman. 

Sampai sekarang kondisi kapal Sophie Rickmer yang ditenggelamkan di Teluk Pria Laot belum banyak diketahui secara umum. Hal ini sangat perlu bagi kita untuk mempublikasikan ke wisatawan nusantara dan wisatawan luar negeri tentang posisi kapal Sophie Rickmer. Menurut beberapa diver yang telah menyelam diseputar Teluk Pria Laot eksistensi kapal dapat dijumpai pada kedalaman sekitar 30 – 40 meter di bawah laut dan kondisi kapal masih utuh namun sudah terkorosi serta menjadi tempat sarang ikan-ikan dan binatang laut. 

Untuk meningkatkan pariwisata di Sabang, selain wisata bawah laut yang terkenal dengan sea garden under water yang berlokasi di sekitar Gapang dan Iboih, juga sangat penting untuk menjdi prioritas adalah wisata sejarah seperti keberadaan kapal Sophie Rickmer untuk dijadikan objek wisata sejarah dan wisata selam yang harus dikunjungi bila berada di Sabang, sehingga upaya memperpanjang dan memperlama (long stay) masa kunjungan wisatawan yang berada di Sabang dapat terpenuhi, semoga !!!! 
Tumpuan Harapan
BEBERAPA CARA MEMPROMOSIKAN OBJEK WISATA DI SABANG
Objek wisata yang terdapat disabang tidaklah asing lagi terdengar bahkan keindahannya sudah akrab di telinga masyarakat Internasional. 

Dengan semua pesona yang dimilikinya, wajar saja Sabang diharapkan menjadi penarik utama kunjungan turis ke Aceh. Kawasan Wisata Terpadu Sabang, akan ditempatkan dalam satu triangle bonded area yaitu mendekatkan Sabang dengan Phuket (Thailand) dan Langkawi (Malaysia) atau biasa disingkat Saphula.
Agaknya mereka yang belum pernah ke Sabang, lebih baik melekaskan diri datang. Keindahan Sabang sekarang ini belum tentu bisa disaksikan lima tahun ke depan. Kondisi gangguan keamanan di Aceh, serta status sebagai pelabuhan bebas bisa menjadi ancaman. 

Pelabuhan bebas berarti pembangunan kian pesat yang akan menghabiskan ruang dan menambah kesumpekan. Jika tak awas sejak kini, Sabang akan bergerak linier seperti Batam. Semua bersentral pada industri, produksi dan polusi. Sehingga tak akan ada lagi slogan: Sabang, the new terminology of paradise. 

Pengenalan keindahan daerah wisata ini dipromosikan dengan berbagai cara seperti melalui media massa dan juga rekomendasi dari turis yang sebelummya pernah merasakan keindahan sabang.
“Saya kira tidak ada masalah dengan kondisi Aceh. Saya mengetahui dari koran-koran dan televisi tentang gangguan keamanan dan politik di Aceh. Namun kondisi itu berbeda dengan pengalaman saya selama di Sabang,” kata Tom Radio (29). Lajang asal Amerika Serikat yang datang bersama temannya.

Pernyataan senada disampaikan Tania (34), asal Stutgart, Jerman yang sudah beberapa bulan tinggal di Sabang. “Saya sudah merekomendasikan kepada kawan-kawan dan keluarga untuk berlibur di sini. Bahkan sekarang, orang tua dan saudara-saudara saya juga berada di Sabang bersama saya,” ujar Tania.

Selain itu, media elektronik juga berpengaruh besar dalam memperkenalkan sabang ke dunia Internasional, seperti pengenalan yang melalui Internet, sehinnga dunia mengetahui keindahannya dan tentu saja tertarik untuk mengunjungi sabang dan merasakan sendiri keindahannya.






Sumber: http://pariwisatasabang.multiply.com/journal/item/1/PARIWISATA_SABANG

0 komentar:

Poskan Komentar